Monday, September 13, 2010

Yesus dan Anak-anak Berbagai Negeri

Dalam beberapa bagian kitab-kitab injil sinoptik dalam Perjanjian Baru dikisahkan Yesus menerima anak-anak dan memberkati mereka (Markus 10:13-16; Matius 19:13-15; Lukas 18:15-17). Sikap Yesus terhadap anak-anak ini berbeda dari sikap murid-muridnya yang sempat memarahi orang-orangtua yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Sebagai reaksi atas sikap murid-muridnya ini, Yesus berkata kepada mereka dengan nada marah,
“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, dia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:14-15)
Mari kita perhatikan lukisan-lukisan berikut yang diangkat dari kisah-kisah injil tentang perjumpaaan dan penerimaan Yesus terhadap anak-anak, dengan corak dan pemaknaan lokal yang diberikan masing-masing pelukisnya.


Lukisan di atas buah tangan Joseph Scott, yang berdiam di Lahore, provinsi Punjab, Pakistan. Digambarkan, Yesus yang berpakaian Punjab dan bersorban putih sedang menerima dan memberkati anak-anak Punjab, yang mengenakan pakaian Punjab juga, sementara ada juga seorang anak yang bertelanjang dada karena sedang musim panas.

Gambar kedua di atas, karya Oscar Towa, Port Moresby, PNG, menampilkan Yesus Papua New Guinea sedang mengajak anak-anak memancing ikan dari sebuah kano. Udara sangat cerah. Sungai berisikan banyak ikan. Anak-anak sangat bersemangat memancing bersama Yesus, tentu bukan di Danau Galilea.

Gambar ketiga di atas, dilukis oleh Joe Mek dari Port Morseby, Papua New Guinea, menampilkan Yesus Papua NG sedang bersama anak-anak. Udara cerah. Anak-anak bermain bersama Yesus dan mereka semua bergembira ria. Memang Yesus PNG ini kelihatan agak seram, memakai sebuah kalung dengan sepasang taring besar menggantung.


Gambar keempat di atas dilukis oleh Masaru Horie, Kobe, Jepang. Dalam suatu perjalanan ke Yerusalem, Yesus Jepang didatangi kaum ibu yang membawa anak mereka masing-masing untuk diterima Yesus dan diberkati.

Gambar kelima di atas menampilkan Yesus Bali sedang bersama anak-anak yang dibawa kepada Yesus oleh orangtua mereka masing-masing. Yesus, yang berselendang hijau bermotif kotak-kotak hijau, berada di tengah kerumunan, menerima dan memberkati anak-anak. Gambar ini dilukis oleh Komang Wahyu, Den Pasar, Bali.

Sudah terlalu biasa kita mendengar penjelasan bahwa Yesus memakai contoh anak-anak sebagai kalangan yang mudah masuk ke dalam pemerintahan Allah karena anak-anak adalah orang yang polos, tidak ada noda kejahatan dan prasangka buruk dalam hati mereka, dan hanya bisa bergantung pada seseorang yang lebih tua, dan karena itu tepat menjadi contoh orang yang dapat bergantung sepenuhnya kepada Allah dan pemerintahan-Nya. Tentu benar bahwa anak-anak memiliki semua sifat ini.

Tetapi sebetulnya, dalam sistem sosial dunia Yunani-Romawi pada masa kehidupan Yesus, anak-anak adalah kalangan yang paling menderita dan mudah dikorbankan oleh orang lain yang lebih berkuasa dari mereka; anak-anak adalah kalangan yang paling rentan terkena perlakuan keras dan diterbengkalaikan, sama seperti orang-orang dewasa yang miskin, yang tak memiliki apa-apa pada diri mereka kecuali tenaga kasar yang dapat dijual dengan harga murah sebagai kuli atau budak. Tak heran jika penulis Injil Markus dalam teks-teks selanjutnya, langsung setelah episode perjumpaan Yesus dengan anak-anak, memuat sebuah episode lain yang mengisahkan betapa sukarnya seorang kaya untuk mengikut Yesus (Markus 10:17-22). Dengan demikian, Markus mengontraskan anak-anak dengan seorang yang kaya raya yang tak sanggup menjual hartanya semuanya lalu mengikut Yesus, menyambut pemerintahan Allah yang sedang nyata di tengah-tengah rakyat Yahudi. Anak-anak pada masa kehidupan Yesus di dunia Yunani-Romawi adalah simbol kerentanan, ketidakberdayaan dan kemiskinan. Kerajaan Allah justru datang untuk mereka yang rentan, tak berdaya dan miskin.