Saturday, February 26, 2011

Sang Firman Yang Menjadi Manusia dalam Imajinasi Artistik Bali dan Thailand

Lukisan di samping kiri, yang dibuat oleh seniman Bali I Nyoman Darsane pada 1978, dapat ditafsirkan dalam dua cara: entah menggam-barkan seorang perempuan Bali yang sedang beribadah dan berdoa kepada Yesus yang dipercaya sebagai sang Terang adikodrati yang turun dari surga lalu tinggal di antara manusia sebagai sang manusia sejati, atau mengisahkan suatu peristiwa kosmik adikodrati sang Firman atau sang Logos menjadi sang manusia sejati melalui rahim perawan Maria yang saleh. Matahari kuning di latar belakang melambangkan kawasan adikodrati, kawasan dari mana sang Firman telah turun.

Si perempuan sedang mengambil posisi dan sikap seorang penyembah dan pemercaya yang rendah hati di hadapan Allahnya, suatu posisi dan sikap khusus yang umum diambil orang Bali ketika melaksanakan suatu ritual keagamaan.

Si perempuan memegang sekuntum bunga teratai di antara jari-jari tangannya, bunga yang di dalam agama-agama Timur dipandang sebagai suatu simbol kekudusan, kemurnian, keilahian, pencerahan, kesatuan segenap ciptaan, bela rasa, transformasi diri, kesehatan, kedamaian, ketenangan dan kehidupan.

Pada pinggir-pinggir bingkai kita dapat melihat gambar-gambar roh-roh jahat yang telah dibuat tercerai-berai, tersudut dan dikalahkan oleh kekuatan terang ilahi yang memancar dari seluruh tubuh sang Firman yang menjadi manusia. Berbagai roh jahat pada lukisan ini menggambarkan satu makhluk mitologis yang dikenal orang Bali sebagai Banaspasti Raja, yang artinya Raja Hutan.

Lukisan I Nyoman Darsane ini dapat dibandingkan dengan sebuah lukisan yang seluruhnya hampir serupa, yang pada 2005 dibuat oleh Sawai Chinnawong, seniman Thai yang menggunakan gaya artistik khas populer Thailand utara dan tengah, yang aslinya dipakai untuk menggambarkan prinsip moral Buddhis dan tema-tema keagamaan lainnya, untuk mengeks-presikan perspektif gabungan Kristen-Buddhis sang seniman. Bola cahaya yang dipegang tangan-tangan sang Kristus yang menyimbolkan Roh Kudus akan segera memasuki rahim perempuan Maria yang bersahaja, yang membuatnya hamil oleh roh Allah untuk melahirkan Yesus sang manusia sejati. Sayangnya, seekor anjing yang tertidur pulas di hadapannya tidak mengetahui peristiwa kosmik adikodrati ini; si anjing ini sama sekali tak berurusan dengan mitologi.



Monday, January 31, 2011

Bunda Maria Berkain dan Berselendang Batik

Gambar ini dinamakan Notre-Dame-du-Sacré-Cœur, “Our Lady of the Sacred Heart”, Bunda Hati Kudus Kita, dilihat dari sudut pandang Indonesia. Bunda Maria yang memakai kain dan berselendang batik ini, serta berkebaya biru, sementara berdiri tegak dengan anggun, sedang menggendong kanak-kanak Yesus. Pada kepala keduanya terdapat halo, tanda keilahian mereka. Tangan kanan Maria memegang hati kudus kanak-kanak Yesus, sedangkan tangan kirinya menopang Yesus. Keduanya sedang tersenyum. Di latar belakang, langit biru, awan putih, daun-daun hijau dan kuning, serta rumput hijau di tanah luas, menandakan alam ikut serta di dalam kekudusan sang Bunda dan puteranya.

Friday, December 24, 2010

Yesus dalam Lego Game

Anak-anak di seluruh dunia suka main Lego game. Kisah-kisah pokok tentang Yesus juga bisa dinikmati melalui Lego game. Join in this Lego game!

Yesus dilahirkan dan tamu-tamu berdatangan.
Selamat hari Natal!


Perjamuan terakhir Yesus dengan murid-muridnya


Ketika Yesus sedang diadili, dia juga didera dan dihina


Yesus sedang disiapkan untuk penyaliban
Yesus telah disalibkan, diapit dua orang penjahat


(Untuk Lego game kisah-kisah alkitabiah, klik http://www.thebricktestament.com/)




Sunday, October 31, 2010

Yesus Ternyata Bisa Tertawa...

Perjanjian Baru sama sekali tidak memuat suatu catatan apapun tentang Yesus yang tertawa atau tersenyum selama kegiatannya di tanah Yahudi Palestina abad pertama Masehi. Hal ini menimbulkan suatu gambaran skriptural yang membosankan tentang seorang Yesus yang terlalu serius sehingga tak memiliki waktu lagi untuk tersenyum atau tertawa.

Orang mengatakan bahwa seorang yang sangat serius biasanya akan berumur pendek. Faktanya, Yesus mati ketika dia masih muda. Musuh-musuhnya membencinya karena dia terlalu serius dengan tujuannya untuk mendirikan suatu pemerintahan politis Allah di tanah Yahudi yang sedang dijajah Roma.

Tetapi, pada gambar di atas, seorang seniman Bali, I Gede Sukana Kariana, dari Den Pasar, Bali, Indonesia, melukiskan Yesus sedang tersenyum lebar sementara anak-anak mengerumuninya. Sukana Kariana menulis, “Dalam Alkitab, secara eksplisit tak ada suatu sebutanpun bahwa Yesus tersenyum. Hal ini suatu misteri buat saya, sehingga saya harus menemukannya melalui pencarian yang lebih teliti lagi di dalam Alkitab. Tertawa adalah suatu ekspresi alamiah yang dilakukan manusia, untuk mengungkapkan kegembiraan mereka dari dasar hati mereka. Sebagai seorang manusia, Yesus pasti memiliki emosi sama seperti manusia lainnya. Dia hidup sebagai seorang manusia normal. Meskipun tak ada suatu catatan eksplisit tentang bagaimana Yesus tertawa dan tersenyum, namun, ketika dia berjumpa dengan banyak anak-anak, saya yakin Yesus tertawa dan membuat suatu banyolan bersama mereka.”

Gambar di atas menampilkan Yesus sedang tertawa sambil mengerdipkan mata kanannya dan tangan kanannya memegang sebuah buku hebat karangan Charles Darwin, berjudul On the Origin of Species 2, dan tangan kirinya mengacungkan jempol. Tampak jelas kalau Yesus ini merekomendasikan buku tersebut untuk anda baca. Dengan ceria Yesus menyatakan dengan bahasa isyarat, hai orang Kristen, terimalah sains evolusi biologis.

Orang Kristen sebetulnya masih memiliki sebuah injil ekstrakanonik yang diberi nama Injil Yudas yang di dalamnya Yesus digambarkan tertawa ketika dia berada bersama murid-muridnya. Ini adalah suatu kabar baik; tetapi kabar buruknya adalah bahwa di sini, dalam injil apokrifal ini, tawa Yesus digambarkan sebagai suatu tawa yang sinis.

Dalam pemikiran kristologis Kristen Yesus dipandang hampir menyeluruh sebagai sang Mesias yang menderita, yang telah mati dengan cara yang memalukan pada kayu salib konon untuk menyelamatkan manusia dari hukuman Allah karena dosa-dosa mereka. Suatu kematian di kayu salib dan manusia berdosa yang harus dihukum adalah suatu “bahasa teologis yang gelap”, yang kontraproduktif terhadap usaha apapun untuk membangun suatu masyarakat yang sehat dan berbahagia.

Karena itu orang Kristen sungguh-sungguh memerlukan suatu sosok keagamaan seperti Budai, sang Buddha Tertawa (Mandarin: 笑佛), yang juga secara popular dikenal sebagai sang Buddha Gemuk di negeri-negeri yang berbahasa Inggris.

Dipercaya sebagai satu inkarnasi dari Buddha Maitreya yang akan datang di akhir zaman, Budai sering digambarkan sebagai seorang berpenampilan botak, berperawakan gendut dan lebar, dan memakai
sebuah jubah serta mengenakan atau membawa sebuah kalung biji tasbih untuk berdoa. Dia membawa sedikit miliknya di dalam sebuah karung goni, kelihatan miskin tetapi puas hati dan senang. Dalam folklor, Budai dikagumi karena keriangannya, karena selalu merasa cukup, dan memiliki hikmat tentang hidup dengan hati puas.

Satu kepercayaan popular dalam folklor menyatakan bahwa jika orang mengusap perut Budai yang gendut, orang itu akan menerima kekayaan, hoki, dan kesejahteraan. Para penganut Buddhisme sangatlah beruntung memiliki Budai, seorang suci yang selalu tertawa riang yang dapat membuat mereka senang dan tertawa.
Jika pun Yesus tidak tertawa, anda sebagai seorang Kristen hendaklah suka tertawa ceria, supaya agama anda yang terlalu serius tidak berubah menjadi sebilah pedang yang tajam menusuk!



Monday, September 13, 2010

Yesus dan Anak-anak Berbagai Negeri

Dalam beberapa bagian kitab-kitab injil sinoptik dalam Perjanjian Baru dikisahkan Yesus menerima anak-anak dan memberkati mereka (Markus 10:13-16; Matius 19:13-15; Lukas 18:15-17). Sikap Yesus terhadap anak-anak ini berbeda dari sikap murid-muridnya yang sempat memarahi orang-orangtua yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Sebagai reaksi atas sikap murid-muridnya ini, Yesus berkata kepada mereka dengan nada marah,
“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, dia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:14-15)
Mari kita perhatikan lukisan-lukisan berikut yang diangkat dari kisah-kisah injil tentang perjumpaaan dan penerimaan Yesus terhadap anak-anak, dengan corak dan pemaknaan lokal yang diberikan masing-masing pelukisnya.


Lukisan di atas buah tangan Joseph Scott, yang berdiam di Lahore, provinsi Punjab, Pakistan. Digambarkan, Yesus yang berpakaian Punjab dan bersorban putih sedang menerima dan memberkati anak-anak Punjab, yang mengenakan pakaian Punjab juga, sementara ada juga seorang anak yang bertelanjang dada karena sedang musim panas.

Gambar kedua di atas, karya Oscar Towa, Port Moresby, PNG, menampilkan Yesus Papua New Guinea sedang mengajak anak-anak memancing ikan dari sebuah kano. Udara sangat cerah. Sungai berisikan banyak ikan. Anak-anak sangat bersemangat memancing bersama Yesus, tentu bukan di Danau Galilea.

Gambar ketiga di atas, dilukis oleh Joe Mek dari Port Morseby, Papua New Guinea, menampilkan Yesus Papua NG sedang bersama anak-anak. Udara cerah. Anak-anak bermain bersama Yesus dan mereka semua bergembira ria. Memang Yesus PNG ini kelihatan agak seram, memakai sebuah kalung dengan sepasang taring besar menggantung.


Gambar keempat di atas dilukis oleh Masaru Horie, Kobe, Jepang. Dalam suatu perjalanan ke Yerusalem, Yesus Jepang didatangi kaum ibu yang membawa anak mereka masing-masing untuk diterima Yesus dan diberkati.

Gambar kelima di atas menampilkan Yesus Bali sedang bersama anak-anak yang dibawa kepada Yesus oleh orangtua mereka masing-masing. Yesus, yang berselendang hijau bermotif kotak-kotak hijau, berada di tengah kerumunan, menerima dan memberkati anak-anak. Gambar ini dilukis oleh Komang Wahyu, Den Pasar, Bali.

Sudah terlalu biasa kita mendengar penjelasan bahwa Yesus memakai contoh anak-anak sebagai kalangan yang mudah masuk ke dalam pemerintahan Allah karena anak-anak adalah orang yang polos, tidak ada noda kejahatan dan prasangka buruk dalam hati mereka, dan hanya bisa bergantung pada seseorang yang lebih tua, dan karena itu tepat menjadi contoh orang yang dapat bergantung sepenuhnya kepada Allah dan pemerintahan-Nya. Tentu benar bahwa anak-anak memiliki semua sifat ini.

Tetapi sebetulnya, dalam sistem sosial dunia Yunani-Romawi pada masa kehidupan Yesus, anak-anak adalah kalangan yang paling menderita dan mudah dikorbankan oleh orang lain yang lebih berkuasa dari mereka; anak-anak adalah kalangan yang paling rentan terkena perlakuan keras dan diterbengkalaikan, sama seperti orang-orang dewasa yang miskin, yang tak memiliki apa-apa pada diri mereka kecuali tenaga kasar yang dapat dijual dengan harga murah sebagai kuli atau budak. Tak heran jika penulis Injil Markus dalam teks-teks selanjutnya, langsung setelah episode perjumpaan Yesus dengan anak-anak, memuat sebuah episode lain yang mengisahkan betapa sukarnya seorang kaya untuk mengikut Yesus (Markus 10:17-22). Dengan demikian, Markus mengontraskan anak-anak dengan seorang yang kaya raya yang tak sanggup menjual hartanya semuanya lalu mengikut Yesus, menyambut pemerintahan Allah yang sedang nyata di tengah-tengah rakyat Yahudi. Anak-anak pada masa kehidupan Yesus di dunia Yunani-Romawi adalah simbol kerentanan, ketidakberdayaan dan kemiskinan. Kerajaan Allah justru datang untuk mereka yang rentan, tak berdaya dan miskin.



Saturday, June 5, 2010

Yesus Menyelamatkan
Seorang Perempuan Pezinah

Tiga gambar berikut di bawah ini adalah ekspresi artistik modern dari perikop Yohanes 8:1-11 dalam Perjanjian Baru. Bacalah perikop ini dengan cermat. Dikisahkan bahwa pada pagi-pagi benar ketika Yesus sedang mengajar rakyat di suatu kawasan Bait Allah di Yerusalem, para ahli Taurat dan orang Farisi datang kepadanya membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatmu tentang hal itu?” Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepadanya, diapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah dia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, tuan.” Lalu kata Yesus, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Mengingat fakta bahwa bagi semua orang Yahudi pada masa kehidupan Yesus hukum Taurat Musa harus diberlakukan tanpa kompromi, maka kita tidak dapat memastikan apakah peristiwa ini betul-betul terjadi. Tema umum injil-injil Perjanjian Baru bahwa Yesus berada di atas hukum Taurat (Markus 2:27-28) muncul dalam perikop ini.

Pandanglah gambar pertama di atas. Dua orang polisi hendak memeriksa dan menangkap seorang pelacur yang berkeliaran di sebuah kota modern (mungkin New York) pada malam hari. Saya tidak tahu mengapa dua orang polisi ini ingin memeriksa perempuan ini; mungkin dia dicurigai membawa narkotik. Mendadak Yesus muncul dengan cahaya kemuliaan menyelubunginya, berdiri di tengah dan berperan sebagai seorang mediator di antara perempuan ini dan polisi-polisi itu. Dua orang polisi ini terkejut atas penampakan diri Yesus yang begitu tiba-tiba. Tetapi malam tetap hening. Dalam imajinasi Anda, apa ucapan yang akan dikeluarkan Yesus pada momen genting ini?

Kemudian lihatlah gambar kedua di atas. Dua belas orang pria sedang mendesak Yesus untuk melakukan sesuatu terhadap seorang pelacur yang berdiri di samping Yesus, memohon pembelaan, perlindungan dan cintanya. Kejadian ini berlangsung di suatu kawasan tertentu Bait Allah. Mengapa dua belas pria? Apakah jumlah dua belas ini menyimbolkan dua belas murid Yesus sendiri, sehingga mereka dan Yesus sedang terlibat dalam suatu perbantahan mengenai seorang pelacur: apakah sang pelacur ini harus dihukum, ataukah harus dimaafkan dan dilindungi? Menurut pendapat Anda, apakah kaum pria memiliki otoritas atas tubuh perempuan-perempuan?

Akhirnya, pandanglah gambar ketiga di atas. Enam orang sedang bertikai mengenai nasib seorang perempuan cantik yang telah kedapatan sedang berbuat zinah. Aha, salah seorang dari enam orang ini adalah seorang Superman! Yesus, dengan mengenakan sebuah kaos oblong warna hijau dan sebuah celana blue jean, sedang berupaya menyelamatkan si perempuan ini dengan mengulurkan kedua belah tangannya kepadanya. Perempuan ini memandang kepada Yesus, mengharapkan cinta, pembelaan dan perlindungannya.

Setelah mempertimbangkan ketiga gambar di atas, dengan sebuah perikop dari Injil Yohanes sebagai latarbelakang, apakah Anda berpendapat bahwa seorang lelaki harus berperan sebagai sang pelindung seorang perempuan? Ataukah halnya lebih dekat kepada kebenaran jika seorang perempuan harus dan dapat melindungi dan membela dirinya sendiri ketimbang memohon belas kasihan dan kekuatan seorang pria?

Saturday, May 29, 2010

Hati Kudus Yesus


Gambar yang mengesankan di atas dibuat oleh Peter Grahame pada 2005, dan dia memberinya judul Lidah Api Batiniah (Inner Flame). Menurut Grahame, di dalam setiap tubuh manusia terdapat suatu hati kudus. Orang dapat dibenarkan jika berpendapat bahwa Grahame terinspirasi oleh Hati Kudus Yesus ketika dia menciptakan gambar ini; dan lelaki berambut panjang yang telanjang ini, dengan lidah api mencuat keluar dari dalam jantungnya pada gambar ini, tentu dapat dipandang sebagai Yesus Kristus. Ujung lidah apinya tajam seolah ujung sebilah pedang yang muncul menyakitkan dari dada lelaki ini. Dengan demikian, penderitaan Yesus tergambar juga pada gambar ini. Saya yakin, bagi Anda gambar di atas berbicara lebih dari yang saya dapat katakan pada kesempatan ini.

Setiap orang tak pelak lagi dapat melihat bahwa sepasang bilah api pada Hati Kudus Yesus di gambar kedua di atas sejajar dengan lidah api pada gambar pertama. Orang Katolik percaya bahwa di dalam Hati Kudus Yesus orang berdosa akan menemukan sumber lautan kasih tanpa batas. Tetapi lidah api yang memancar dari Hati Kudus Yesus juga dapat secara simbolik dipandang sebagai emanasi atau pancaran cahaya ilahi yang terarah kepada kemanusiaan sehingga membuat kemanusiaan ini bait keilahian. Cahaya kudus ilahi berdiam di dalam hati dan pikiran setiap orang. Anda, bukan hanya Yesus, adalah Kristus juga, yakni ketika Anda dipenuhi oleh kepenuhan Allah (Efesus 3:19).