Sunday, January 10, 2010

Madonna Breastfeeding the Infant Jesus


Di atas adalah foto sebuah patung kecil unik asesoris diorama peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus yang dibeli penulis dari Atlanta, Trudie Barreras, ketika dia berkunjung ke Meksiko pada tahun 2001. Keunikan patung ini terletak pada figur Bunda Maria yang sedang bertelanjang dada meneteki bayi Yesus yang dengan tenang menyedot salah satu puting susu bundanya. Kedua payudara Bunda Maria yang dibiarkan telanjang serta kerlingan lembut dan tajam kedua matanya ke arah sang bayi memberi kesan mendalam pada setiap orang yang memandang patung ini dalam-dalam. Bukan saja sinar cinta dari kedua matanya menghubungkan sang bunda kudus dengan sang bayi buah hatinya, tetapi juga mulut mungil sang bayi terhubung langsung dengan tubuh sang ibu melalui puting susu yang sedang asyik dikenyotnya. Body-to-body touch and connection!

Pembuat patung luar biasa ini bukan sedang mengeksploitasi patung Bunda Maria secara seksual untuk mendapatkan keuntungan material dari penjualan hasil karya seninya ini. Tetapi apa yang diekspresikan melalui patung uniknya ini memberi gambaran impresionistik yang sangat kuat mengenai sifat dan kodrat keibuan sang bunda Maria yang melalui dua buah payudaranya yang padat berisi air susu ibu memberi nutrisi sehat pada sang bayi Yesus, sementara sang Bunda yang sedang menyusui bayinya ini duduk di atas pelana seekor keledai berpunggung dan berkaki kuat.


Anda bertanya, mau pergi ke mana sang Bunda Maria bersama sang bayi Yesus dengan menunggang seekor keledai jantan yang perkasa? Memang Yusuf tidak ditampilkan oleh si pengrajin patung. Tetapi jelaslah kalau si seniman bermaksud menggambarkan perjalanan keluarga kudus ini kabur ke Mesir, meninggalkan Betlehem, untuk menghindari Raja Herodes yang sedang mencari sang bayi untuk dibunuhnya, seperti dikisahkan penulis Injil Matius dalam pasal 2:13-18.


Tentu saja kisah perjalanan ke Mesir oleh keluarga kudus ini bukanlah sebuah kisah yang faktual dulu terjadi. Bagaimana mungkin di tengah lingkungan keras daerah bebatuan dan gurun serta keadaan jalan-jalan setapak yang berat keluarga kudus ini harus menempuh perjalanan sejauh antara 300 sampai 400 kilometer dengan tentu saja bukan naik sebuah Jeep, melainkan dengan menunggang seekor keledai, dengan sekaligus harus merawat dan menjaga kesehatan sang bayi Yesus terus-menerus? Jika perjalanan semacam ini dilakukan oleh perempuan mana pun yang baru melahirkan bersama bayinya yang masih merah, pada keadaan dan kondisi zaman itu di Timur Tengah, ini akan menjadi suatu mimpi buruk, a nightmare, yang akan berujung pada kematian.


Penulis Injil Matius menyusun sebuah episode fiktif pelarian ke Mesir ini karena kebutuhan teologisnya untuk menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh bisa menjadi sang Mesias Israel, Anak Allah, karena Yesus sudah menapaktilaskan perjalanan bangsa Israel, anak Allah, keluar meninggalkan Mesir, rumah perbudakan, untuk masuk ke Tanah Perjanjian (Keluaran 14), setelah untuk beberapa waktu diungsikan oleh kedua orangtuanya ke Mesir. Bahwa episode ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan teologis ini nyata dari sebuah pernyataan yang ditulisnya pada ayat 15, “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku’” (kutipan dari Hosea 11:1), untuk memberi sebuah landasan skriptural bagi kembalinya kanak-kanak Yesus dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Pelarian ke Mesir oleh keluarga kudus ini bisa jadi juga merupakan sebuah fiksi teologis Matius untuk menyejajarkan Yesus dengan Yusuf, anak Rahel, yang dijual seharga dua puluh syikal perak oleh saudara-saudaranya kepada para pedagang dari Midian yang kemudian membawanya ke Mesir dan di sana akhirnya Yusuf menjadi seorang besar yang sangat berkuasa, seperti dikisahkan dalam Kejadian 37:28; 39:1; dan 41:37-45. Pendek kata, episode injil tentang pelarian ke Mesir menempatkan Yesus sejajar dengan para bapak leluhur Israel bahkan mengejawantahkan dalam dirinya sendiri seluruh kolektivitas bangsa Israel sebagai anak Allah, yang dulu Allah, melalui Musa, telah merdekakan dari perbudakan di Mesir.

Thursday, December 24, 2009

Babe Jesuses of Asia Were Born


Inilah pemandangan di sekitar peristiwa kelahiran Yesus menurut imajinasi seorang seniman India. Bukan bintang Betlehem tentunya, tetapi bintang Kalkuta yang dari luar menyinari bayi Yesus yang baru dilahirkan. Cahaya bintang ini sangat cemerlang sehingga mengalahkan cahaya lampu-lampu yang dinyalakan dalam ruangan. Selain seekor keledai menemani mereka bertiga, di latar belakang ada juga beberapa ekor sapi yang bagi orang India adalah hewan suci. Munculnya sapi-sapi ini menjadi ciri khas lukisan kelahiran Yesus India ini.



Bunda Maria India, yang di pergelangan kaki dan tangannya memakai gelang-gelang, sedang menimang bayi Yesus yang baru dilahirkan. Sang bayi yang di pangkuannya sudah bisa diajak bercanda dan tertawa-tawa cerah. Di latar depan bukan seekor ular sedang meliuk-liuk naik ke atas, melainkan sebatang pohon kecil. Kegelapan di latar belakang dikalahkan oleh cahaya kemuliaan ilahi yang memancar dari kepala kedua insan berbahagia ini.


Inilah keluarga kudus yang berbahagia: Maria, bayi Yesus dan Yusuf India. Bintang kecil Kalkuta tampak bersinar jauuuh di atas.


Dalam imajinasi seorang pelukis Tiongkok, ketika bayi Yesus baru dilahirkan, yang mengunjungi mereka adalah para gembala (ataukah para tetangga?) laki-laki dan gembala perempuan. Tuan Yusuf bersimpuh di sebelah kiri Bunda Maria. Yusuf tampak bak seorang pembesar dengan topi kebesarannya yang tidak dilepasnya. Selain seekor kerbau dan seekor keledai, ayam-ayam jantan pun ikut bertamu ke rumah (atau kandang?) sederhana tempat kelahiran Yesus. Pasti hingar bingar suasana di ruangan ini, yang tentunya bisa membuat bayi Yesus ketakutan. Silent night mustinya tidak dirasakan bayi yang kebisingan ini.



Menurut imajinasi seorang pelukis Indonesia (yang namanya tidak diketahui), ketika Yesus dilahirkan yang datang berkunjung adalah para tetangga lengkap dengan membawa anak-anak mereka. Di ruangan tempat bayi Yesus dilahirkan, ada sebuah bale-bale; tetapi kasihannya sang bayi diletakkan di lantai tanah ruangan di atas secarik karung bekas atau sehelai kain tebal. Sukar untuk menemukan mana Bunda Maria dan mana Yusuf, apakah pasangan yang di sebelah kanan ataukah pasangan yang di sebelah kiri. 

Sebagai ganti cahaya benderang bintang di langit, yang menerangi ruangan adalah dua lampu tempel besar dan sebuah lampu tempel kecil. Lampu yang satunya lagi, yang letaknya terdepan, tidak bernyala, mungkin karena sudah kehabisan minyak tanahnya. 

Tidak ada hewan apapun dalam ruangan. Tidak ada tiga raja yang datang. Tidak ada persembahan mas, mur dan kemenyan. Bayi Yesus betul-betul dilahirkan dalam kemiskinan, lahir dalam kondisi kerempeng. Maklum, yang dilahirkan ini adalah bayi Yesus Indonesia di suatu kampung miskin yang tidak tersentuh pembangunan yang banyak dikorupsi oleh para pembesar.


Saturday, November 14, 2009

Jesus as Guru

Gambar batik di atas adalah karya Solomon Raj dari India. Dengan berbasis pada tradisi keagamaan Hindu India, dia melukiskan Yesus sebagai seorang guru sejati, Sadguru, yang sedang mengajarkan dan menuangkan hikmat dan kebenaran hakiki seperti ditampakkan oleh tangan kanannya yang terangkat ke atas. Tangan kirinya berada pada suatu posisi simbolis yang menyatakan seorang yang memiliki perhatian dan belarasa besar untuk menghibur orang yang sedang berduka. Dalam lukisan batik ini, Yesus duduk dalam posisi teratai, padma asana, yang menandakan kesucian dan kekudusan dirinya serta keluasan hikmat ilahi yang dimilikinya. Kepalanya dilukiskan bermahkotakan lingkaran kemuliaan ilahi yang selalu menyertainya kemana pun dia pergi. (Lukisan ini diambil dari http://www.somc.org.uk/resources/symbols.htm)

Dalam kepercayaan religius India, seorang Sadguru mengajarkan orang hal-hal terpenting dalam kehidupan yang perlu diketahui dan dihayati para murid. Seorang Sadguru dipercaya memiliki titiksa (toleransi) dan karuna (belarasa), bersahabat dengan semua makhluk hidup, bebas dari segala nafsu serakah, dan pikiran serta kesadarannya senantiasa terpusat pada Krisna, Allah yang Mahakuasa dalam kepercayaan Hindu. Seorang Sadguru bahkan dipercaya merupakan wujud kehadiran Allah dalam rupa manusia, seorang Avatara. Dalam kepercayaan para penyembah Dewa Siwa (Saiva Sidddhanta), Allah sendiri dipercaya datang dalam rupa seorang guru kebenaran pada waktu para murid, setelah melewati suatu periode persiapan pertarakan, sudah siap menerima pengajaran atau dharma yang membawa orang kepada puncak kesatuan dengan sang Brahman. Dengan demikian, tugas terpenting seorang guru adalah mengajarkan orang tentang dharma dan membawa mereka ke dalam kesatuan dengan Allah yang mahakuasa.


Gambar kedua menampilkan Yesus dan seorang perempuan Samaria yang menjadi teman bercakap-cakap Yesus di dekat sumur Yakub, seperti dituturkan dalam Injil Yohanes 4, tetapi ditampilkan dalam konteks kebudayaan Hindu India. Kain jingga yang meliliti sebagian tubuh Yesus, serta seuntai kalung yang dipakainya, menunjukkan dia seorang suci India, seorang guru, bukan lagi seorang Rabbi Yahudi yang belakangan diakui sang perempuan Samaria itu sebagai sang Mesias (Yohanes 4:29). Sebagai sang Avatara, penjelmaan sang Firman, ho logos, Yesus dalam lukisan ini digambarkan sebagai sang guru India yang mengajarkan pengetahuan mengenai Allah dan membawa orang ke dalam kesatuan dengan Allah sendiri, yang dengan-Nya Yesus dalam Injil Yohanes digambarkan terus-menerus berada dalam satu kesatuan. (Lukisan ini diambil dari http://indologica.de/drupal/?q=node/231)

Tampaknya, pemahaman India tentang Yesus sebagai Sadguru lebih dapat ditampilkan jika sang pelukis mencari inspirasi dari Injil Yohanes dan mengontekstualisasikannya dengan kebudayaan India, ketimbang dari Injil-injil Sinoptik yang menggambarkan Yesus sebagai sang guru yang mengajar pengetahuan mengenai Taurat (lihat Lukas 18:18-27; Matius 19:16-26; Lukas 10:25-28).

Monday, October 26, 2009

The Muslim Madonna and Child Jesus


Di atas ini sebuah lukisan kaum Muslim mengenai Maria (Maryam) yang sedang duduk memangku kanak-kanak Yesus (Isa) di bawah naungan sebatang pohon kurma. Yusuf ada di belakang bukit batu memandang mereka berdua. Selain pada kepala Maryam, pada kepala kanak-kanak Isa dilukiskan ada sebuah mahkota api yang membubung bernyala membakar. Ini adalah sebuah gambaran yang tidak biasa, yang menghubungkan Isa dengan api yang berkobar.



Begitu juga, pada gambar kedua di atas ini, sebuah mahkota api bernyala bertengger pada kepala kanak-kanak Isa yang dipangku Maryam yang sedang duduk di beranda rumah. Sebatang pohon lebat ada di samping mereka.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus memang beberapa kali dihubungkan dengan api. Tetapi yang paling menarik adalah sebuah ucapannya yang dicatat dalam Injil Thomas. Dalam
Injil Thomas logion 82, Yesus bersabda, “Dia yang dekat padaku, dekat dengan api; dia yang jauh dariku, jauh dari kerajaan” (Bdk Injil sang Penyelamat 107.43-48; Origenes, Hom. in Jer. L.I [III], 3.104-105; Didimus si Buta, In Ps. 88.8; Pseudo-Efrem, Eksposisi Injil 83).




Api berfungsi membakar, menghanguskan, memurnikan, dan, tentu saja, menerangi atau mencerahkan. 

Orang yang layak menjadi para pengikut Yesus, yang dekat dengan dirinya, adalah orang yang bersedia dekat dengan api, terbakar, hangus, dimurnikan dan budinya dicerahkan. Tentu ini adalah sebuah metafora tentang orang yang dibentuk kembali secara baru dan dimurnikan serta dicerahkan secara radikal. 

Dalam gambaran apokaliptis, kerajaan sorga adalah kerajaan api. Dalam logion 82 Injil Thomas ini, Yesus disamakan dengan api dari kerajaan sorga dan menyatakan diri-Nya juga sebagai api. Orang yang mengalami kristofani akan merasakan Yesus sebagai api yang membakar, dan orang yang tidak siap akan tidak tahan berhadapan dengan-Nya ketika dia menyatakan kemuliaan sorgawinya dalam api yang bernyala. 

Dalam Injil sang Penyelamat 107.43-48, Yohanes meminta Yesus yang sudah dibangkitkan untuk, dalam kristofaninya, mengurangi cahaya api kemuliaan-Nya, sebab jika tidak demikian, para murid akan tidak tahan dan akan dikuasai kegentaran yang mengerikan dan dibinasakan. Orang yang layak menjadi murid-murid Yesus, dengan demikian, adalah orang yang sanggup bertahan ketika berhadapan dengan Yesus yang berwujud api sorgawi, dan, dalam kedekatannya dengan Yesus, mengalami pencerahan budi.



Friday, October 23, 2009

The Muslim Jesus

Dalam pandangan Islam, Yesus adalah seorang Muslim sejati yang dipilih Allah untuk memanggil orang untuk menerima Islam sebagai “jalan lurus” dan memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Kalau saya “memasrahkan diri kepada kehendak Allah”, maka saya juga seorang Muslim, tanpa perlu mengikrarkan syahadat Islam terlebih dulu. Gampang, kan? Tetapi kalangan Muslim sendiri seringkali sangat mempersulit orang untuk menjadi Muslim, dengan mengajukan berbagai aturan keagamaan berbelit-belit dan terinci yang harus ditaati, bahkan sampai ada yang perlu menjadi seorang teroris suicide bomber untuk menjadi seorang Muslim sejati.

Inilah gambar wajah Yesus sebagai seorang Muslim: berjenggot, berkumis, bercambang lebat, berkulit sawo matang, memakai sorban hitam. Seorang Kristen ortodoks akan menyatakan, Aah, orang ini sama sekali tidak mirip dengan Yesus saya!

Yesus Muslim memakai jubah putih melambangkan kesuciannya,
tetapi gambar ini juga bisa ditafsir sebagai seorang Yesus muslim yang sedang menunaikan ibadah haji


Kalaupun Yesus memiliki kelebihan, dia dipandang paling jauh hanya sebagai seorang nabī atau seorang rasūl. Jangan sekali-kali memaksa kaum Muslim untuk mengakui bahwa Yesus adalah inkarnasi Allah atau Anak Allah yang memiliki ke-praada-an!

Yesus Muslim berjubah putih sampai menutupi kepalanya, kedua belah tangannya terangkat dalam sikap sembahyang, di belakang kepalanya melingkar cahaya kemuliaan dan sebuah salib

Selain itu, ada beberapa gelar lain yang diberikan kepada Yesus dalam tradisi Islam, yakni Yesus sebagai mubārak (= “orang yang diberkati” atau “sumber kebaikan bagi orang lain”), wadjih (“orang yang patut dikagumi di dunia maupun di akhirat”), ‘ abd-Allāh (=hamba Allah), al-Masīḥ (=sang Mesias), kalimatullah (=firman Allah) dan lain-lain.

Ini sebuah sketsa Yesus berwajah Arab, mengenakan sorban bermotif mirip sorban yang dulu biasa dipakai Yasser Arafat; tampaknya sketsa ini belum rampung

Nah, saya akhirnya tergelitik bertanya, Siapa yang lebih tampan, Nabi Muhammad ataukah Yesus Muslim dalam gambar-gambar di atas? Barangkali ada yang mau menyumbang gambar wajah sang Nabi kepada saya?

Sunday, October 11, 2009

The Original Dark-Skinned Jesus

Menurut anda bagaimana rupa wajah Yesus yang sebenarnya? Berkulit putih, berambut panjang pirang dan berombak serta berbiji mata biru, seperti yang mungkin dipajang pada dinding kamar belajar anda? Aah, itu adalah wajah Yesus dari para pelukis Zaman Barok (Renaissance) di Eropa (abad 14-abad 16), yang mula-mula merupakan salah satu dari sekian lukisan wajah Ceasare Borgia, seorang putera berkepribadian buruk dari Paus Aleksander VI (dikenal juga sebagai Rodrigo Borgia) (1431-1503), yang dilukis oleh Michelangelo Buonarroti dan Leonardo da Vinci atas permintaan ayahnya pada tahun 1492 (menurut sebuah catatan Aleksandre Dumes, Celebrated Crimes, jilid I).

Patung 3-Dimensi kepala dan wajah seorang laki-laki di atas tentu tidak anda kenal, bukan? Perhatikanlah: dia berkulit gelap sawo matang dan sedikit hitam, berambut tebal, lurus, pendek, berkeriting kusut dan berwarna hitam, serta kedua biji matanya berwarna coklat. Anda perlu tahu, patung ini adalah sebuah patung kepala Yesus dari Nazaret yang dirancangbangun dengan suatu metode ilmiah oleh sebuah tim yang ditugaskan oleh TV BBC London dengan memakai bukti-bukti medis forensik, arkeologis, geografis dan artistik yang diperoleh dari abad pertama Masehi, masa kehidupan Yesus sendiri. Potret patung ini dipublikasi pertama kali secara khusus pada suatu acara tayangan TV BBC selama musim Paskah 2001, tayangan yang diberi judul Son of God.

Bentuk dan volume tengkorak patung ini dirancang dengan memakai sebuah model dari sebuah tengkorak laki-laki yang ditemukan di Israel, yang berasal dari abad pertama. Hal ini harus dilakukan sebab, seperti dijelaskan oleh tim BBC itu, “Kepala orang-orang Yahudi pada masa kini berbeda dari kepala mereka pada 2000 tahun lalu; karena itulah tim kami mencari sebuah tengkorak seorang laki-laki Yahudi dari masa kehidupan Yesus.” Pengonstruksian patung kepala Yesus dari Nazaret ini sendiri ditangani oleh seorang seniman medis forensik Richard Neave dari Universitas Manchester. Salah seorang anggota tim BBC itu, Joe Zias, seorang arkeolog Israel, menyatakan, “Dalam merekonstruksi kepala ini, kami tidak mengklaim bahwa inilah persisnya wajah Yesus; tetapi kami mencoba untuk menyingkirkan semua citra buruk sekian banyak figur Yesus yang bukan-bukan, yang dilukiskan berambut pirang, bermata biru, yang menjadi ciri produk-produk Hollywood.” Jeremy Brown, presenter tayangan Son of God ini, berkomentar, “Yesus bukanlah seorang yang berambut pirang dan bermata biru, seperti yang sangat sering digambarkan dalam kartu-kartu Paskah. Citra yang kami telah bangun jauh lebih realistik.”

Kalau ditelusuri ke belakang, ternyata gambar-gambar wajah Yesus yang bukan gambar-gambar dari Zaman Barok cukup banyak tersedia, yang memperlihatkan Yesus bukan seorang kulit putih, berambut pirang dan bermata biru. Perhatikanlah gambar dan patung di bawah ini, yang lebih mirip dengan gambar patung Yesus dari Nazaret yang dihasilkan tim BBC di atas.

Wajah Yesus berkulit gelap kehitaman dengan sepasang mata hitam di atas ini berasal dari sebuah gereja di Roma, dari kurun tahun 530 M. Gambar ini sama sekali tidak mirip dengan gambar wajah Yesus Zaman Barok manapun yang dilukis jauh lebih kemudian.

Patung seorang perempuan di atas ini terkenal sebagai Black Madonna, Bunda Maria Hitam, yang sedang memangku kanak-kanak Yesus yang tentu saja juga berkulit hitam. Patung ini bukanlah patung-patung yang dibangun di zaman modern untuk mempropagandakan Teologi Hitam sebagaimana dihayati banyak orang Kristen kulit hitam di Afrika maupun di Amerika Utara oleh modern black Americans. Patung-patung Madonna Hitam semacam ini, ada yang dibuat dari kayu dan ada juga yang dari batu, jumlahnya sampai lima atau enam ratusan lebih dan dibuat pra-zaman Barok, pada zaman Abad Pertengahan (abad ke-11 sampai abad ke-15), dan sekarang ini tersebar di banyak gereja, kuil, tempat suci dan museum di banyak kota di Eropa Barat, mula-mula dibuat di Italia pada abad ke-13 atau abad ke-14. Mengapa keduanya berkulit hitam? Salah satu penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa Black Madonna menampilkan warna kulit yang sebenarnya dari Bunda Maria dan puteranya, Yesus.


Perhatikan raut wajah Yesus dari Ethiopia abad ke-17 atau abad ke-18 pada gambar di atas ini. Kulit wajahnya berwarna sawo matang, dengan rambutnya hitam kelam tebal dan sepasang biji matanya berwarna hitam. Wajah Yesus Ethiopia abad ke-17 ini sama sekali tidak mirip dengan wajah Yesus Zaman Barok.

Di atas ini adalah sebuah lukisan wajah Yesus berkulit gelap, berambut hitam tebal kusut dan bermata hitam, dari tahun 1960. Wajahnya hampir serupa dengan wajah Yesus yang dibangun oleh tim BBC di atas.

Apa kesimpulan yang bisa ditarik? Ya, tidak lain, bahwa wajah Yesus berkulit putih, berambut pirang panjang dan bermata biru, Yesus Zaman Barok, bukanlah wajah asli Yesus dari Nazaret. Dan, tentu saja, orang Kristen yang sudah terbiasa berpaling ke Eropa untuk mencari sumber-sumber kekayaan dogmatis dan spiritual mereka akan sangat tidak menyukai sang Yesus yang berkulit gelap sawo matang, berambut hitam pekat, pendek dan agak kusut, serta berbijimata coklat, seperti yang telah berhasil direkonstruksi oleh tim BBC.

Bagi orang-orang Kristen ortodoks Eropa, termasuk orang-orang Kristen ortodoks Indonesia, Yesus dari tim BBC ini sungguh suatu penghinaan, sungguh suatu ajaran yang heterodoks dan karenanya patut ditolak dan dikutuki. Yesus heterodoks dari tim BBC ini sangat membuat mereka merasa diserang dan dilukai, persis sama dengan perasaan orang-orang Farisi ketika mereka melihat Yesus dari Nazaret
sedang duduk dan makan semeja dengan para pemungut cukai dan orang berdosa, padahal sang rabi informal ini boleh dikata sama pekerjaannya dengan mereka sebagai guru-guru masyarakat. Tetapi, orang harus tidak boleh lupa, di dalam heterodoksi kebenaran malah sering lebih kentara ada, ketimbang di dalam ortodoksi. Berbahagialah mereka yang heterodoks!



Saturday, September 26, 2009

The Dancing Jesus


Yesus berdansa? Aah, itu sangat duniawi, hedonis, tidak ortodoks! Ya, lukisan di atas ini memang tidak ortodoks. Tetapi, duniawi, hedonis? Nanti dulu, Bung! Lukisan ini menampilkan Yesus sedang berdansa bersama Maria dan Martha serta perempuan-perempuan lain, buah tangan pelukis Bali asal Den Pasar, I Nyoman Darsane. Menurut sang pelukis, cahaya putih berkilat kemuliaan ilahi Yesus terpancar justru ketika dia menari, berdansa, bergerak. Pada mulanya adalah gerak! In the beginning was the divine movement. Gerak meliuk tubuh Yesus sepenuhnya adalah suatu gerakan yang kuat, ampuh, powerful. Melalui tariannya, Yesus menyalurkan energi, kekuatan dan cahaya ilahi yang ada dalam dirinya ke dunia sekitarnya, yang dilatarbelakangi kegelapan, kepada perempuan-perempuan sahabat Yesus.

Bukan hanya Darsane, banyak seniman lain di berbagai tempat di muka planet Bumi juga membayangkan Yesus suka menari. Gambar kedua adalah buah tangan pelukis Amerika, Mark Dukes, menampilkan Yesus yang berjubah sedang menari, kaki kirinya terangkat, dan tangan kanannya memegang tongkat besi panjang yang ujungnya berbentuk salib.

Gambar ketiga memperlihatkan Yesus yang sudah diturunkan dari kayu salibnya menari, tangan kanannya terangkat ke atas, tangan kirinya memegang tongkat yang berujung salib, kedua tapak kakinya yang masih meninggalkan dua luka bekas paku menginjak bola dunia, dan sebuah selendang panjang warna-warni melilit panggul, tubuhnya yang telanjang dan kedua belah tangannya, seolah dia sedang merayakan kemenangannya dari kuasa maut dengan berdansa sambil mengibarkan selendang.

Pada gambar keempat di atas, yang dibuat oleh Lindena Robb, Sydney, Australia, Yesus yang bertelanjang dada dengan bergembira dan penuh suka cita sedang menari, dan sejumlah perempuan, sambil tersenyum, memandang kepadanya, mungkin dengan gairah seksual dalam hati mereka masing-masing. Langit yang biru menambah suatu perasaan bergairah dalam diri mereka yang hadir.

Apakah gambaran tentang Yesus yang berdansa tidak kristiani? Oh, sama sekali tidak demikian! Yesus menari, sangatlah kristiani; sebab ada sebuah teks suci Kristen yang menuturkan Yesus menari bersama-sama murid-muridnya. Teks ini dapat kita baca dalam sebuah dokumen yang diberi nama Kisah Rasul Yohanes (The Acts of John), yang ditulis pada abad 2 M sebagai sebuah karya sastra jenis roman, dengan menerima pengaruh dari tradisi teologi komunitas Yohanes. Teologi dokumen apokrif ini bercorak Kristen gnostik Valentinian, yang dituangkan paling kentara dalam pasal 94-102. Di dalam dokumen ini (pasal 94-96) dituturkan bahwa pada saat Perjamuan Terakhir, sebelum dia disalibkan, Yesus berkata, “Sebelum aku diserahkan kepada mereka, marilah kita menaikkan sebuah kidung pujian kepada sang Bapa lalu kita sama-sama menghadapi apa yang akan terjadi di depan kita.” Setelah berkata demikian, Yesus meminta murid-muridnya berdiri membentuk sebuah lingkaran dengan satu sama lain bergandengan tangan, dan dia sendiri berdiri di tengah lingkaran itu, lalu bersama dengan semua muridnya Yesus menari-nari dengan sangat kuat. Setiap Yesus selesai menaikkan madah, murid-muridnya, sambil menari-nari, menyambut dengan seruan “Amin!” Tarian Yesus bersama murid-muridnya serta madah yang dinyanyikannya ini disebut sebagai Tarian Salib Melingkar (the Round Dance of the Cross). Selengkapnya, madah yang dinaikkan Yesus dan respons antifonal semua muridnya berikut ini.

Kemuliaan bagimu, bapa.

Amin.

Kemuliaan bagimu, firman.

Kemuliaan bagimu, rakhmat.

Amin.

Kemuliaan bagimu, roh.

Kemuliaan bagimu, sang kudus.

Kemuliaan bagi kemuliaanmu.

Amin.

Kami puji engkau, bapa.

Kami bersyukur kepadamu, terang,

di dalammu tidak ada kegelapan.

Amin.

Aku nyatakan mengapa kami bersyukur:

aku akan diselamatkan
dan aku akan menyelamatkan.

Amin.

Aku akan dibebaskan
dan aku akan membebaskan.

Amin.

Aku akan dilukai dan aku akan melukai.

Amin.

Aku akan dilahirkan dan aku akan melahirkan.

Amin.

Aku akan memakan dan aku akan dimakan.

Amin.

Aku akan mendengar dan aku akan didengar.

Amin.

Aku akan diingat,
dan aku adalah ingatan yang murni.

Amin.

Aku akan dibasuh dan aku akan membasuh.

Amin.

Rakhmat berdansa.


Aku akan meniup seruling.

Marilah, setiap orang, berdansa.

Amin.

Aku akan meratap.

Setiap orang, merataplah.

Amin.

Kawasan delapan kidung bersama kita.

Amin.

Bilangan keduabelas berdansa di atas.

Amin.

Seluruh jagat berdansa bersama kita.

Amin.

Jika engkau tidak berdansa,
engkau tidak mengetahuinya.

Amin.

Aku akan lari jauh dan aku akan tetap di sini.

Amin.

Aku akan menghias dan aku akan dihias.

Amin.

Aku akan disatukan dan aku akan menyatukan.

Amin.

Aku tidak memiliki rumah
dan aku memiliki banyak rumah.

Amin.

Aku tidak bertempat tinggal
dan aku akan memiliki banyak tempat.

Amin.

Aku tidak memiliki bait
dan aku memiliki banyak bait.

Amin.

Aku adalah sebuah pelita bagimu yang melihatku.

Amin.

Aku adalah sebuah cermin bagimu yang mengenalku.

Amin.
Aku adalah sebuah pintu bagimu yang mengetukku.

Amin.

Akulah sebuah jalan bagimu, wahai musafir.

Amin.


Jika engkau mengikuti dansaku,

lihatlah dirimu ada di dalamku ketika aku berbicara.
Jika engkau sudah melihat apa yang kuperbuat,

simpanlah dalam hatimu apa yang menjadi misteriku.

Engkau yang menari,
pertimbangkanlah apa yang kulakukan.


Penderitaanmu adalah
penderitaan insani yang harus kutanggung.

Engkau tidak akan pernah memahami apa yang engkau derita

kecuali aku sang firman diutus kepadamu oleh sang bapa.

Engkau yang telah melihat apa yang kulakukan

telah melihat aku sebagai penderitaan,
dan pada saat engkau melihatnya,

engkau tidak kokoh berdiri

tetapi sangat tergoyangkan.

Engkau digoyangkan menuju hikmat,

dan engkau mendapat pertolonganku.


Rehatlah di dalamku.


Siapa aku,
engkau akan tahu kalau aku pergi.
Apa yang sekarang terlihat pada diriku,

itu bukanlah aku yang sesungguhnya.

Siapa aku sebenarnya,

engkau akan lihat kalau engkau mau datang.


Seandainya engkau tahu bagaimana harus menderita

engkau akan dapat tidak menderita.

Belajarlah bagaimana menderita

maka engkau akan dapat tidak menderita.


Apa yang engkau tidak ketahui,

aku akan ajarkan kepadamu.

Akulah Allahmu,

bukan Allah si pengkhianat.


Aku mendambakan jiwa-jiwa yang suci

selaras dengan diriku.
Ketahuilah firman hikmat.


Katakanlah bersamaku,

Kemuliaan bagimu, bapa.

Kemuliaan bagimu, firman.

Kemuliaan bagimu, roh.

Amin.


Jika engkau ingin tahu siapa aku dahulu,

aku menertawakan segalanya dengan firman ini,

dan aku sama sekali tidak ditertawakan.


Aku melompat-lompat karena girang.

Pahamilah segala sesuatu,

dan ketika engkau telah memahaminya,
beritakanlah.

Kemuliaan bagimu, bapa.

Amin.


Sayangnya, dokumen apokrif Kisah Rasul Yohanes ini oleh Paus Leo Agung (menjabat dari 24 September 440 sampai 10 November 461) pada abad kelima dicap sebagai sebuah dokumen yang menyesatkan. Sang Paus menyatakan secara resmi bahwa dokumen ini “berisi sebuah ranjang panas yang menyesatkan dan karenanya harus bukan hanya dilarang tetapi juga dienyahkan sama sekali dan dibakar dengan api.”


Bagaimanapun juga, dengan adanya Kisah Rasul Yohanes, kekristenan memiliki sebuah tradisi langka yang menyatakan bahwa Yesus bernyanyi dan berdansa bersama murid-muridnya. Tarian yang Yesus bersama murid-muridnya gerakkan, dan madah serta respons murid-muridnya, menyatukan mereka semua dengan jagat raya, menyatukan Yesus dengan murid-muridnya sehingga dia ada di dalam mereka dan mereka ada di dalamnya, dan dengan kesatuan mistikal lewat tarian hebat ini para murid disucikan dan menerima kekuatan untuk dapat menanggung penderitaan dan mengetahui cara bagaimana menaklukkan penderitaan.


Sebetulnya, dalam banyak agama tradisional di seluruh dunia, dulu maupun kini, para tokoh suci agama-agama, jadi bukan hanya Yesus, digambarkan memakai tari-tarian sebagai media untuk menyalurkan kekuatan ilahi kepada umat dan dunia ini, dan tari-tarian mereka menyimbolkan gerak energik ketuhanan yang menjadi fondasi dasar seluruh ciptaan.

Siwa nataraja, Siwa Raja Pedansa


Siwa nataraja

Hinduisme sebagai suatu agama yang sudah sangat tua umurnya, jauh lebih tua dari kekristenan, mengenal tradisi pemikiran dan kesenian semacam ini. Gambar kelima dan keenam di atas menampilkan Dewa Siwa sedang melakukan tarian; dan dalam pose dansanya ini Siwa dikenal sebagai sang Nataraja, sang Raja Pedansa. Pose Siwa dalam Nataraja dan segala pernak-pernik yang dipegangnya dan yang ada bersamanya penuh dengan makna simbolik yang berjangkauan kosmik. Ringkas kata, tarian Siwa Nataraja ini menyimbolkan siklus kosmik penciptaan dan pembinasaan dan juga ritme kelahiran dan kematian sebagai pengalaman kehidupan manusia dan segenap makhluk hidup setiap hari, yang semuanya mengalir keluar dari Dewa Siwa. Jelas, dansa Nataraja adalah sebuah alegori artistik yang menunjuk pada lima wujud prinsipil keberadaan energi yang kekal dalam jagat raya, mulai dari partikel sub-atomik sampai jagat raya mahabesar: penciptaan, pembinasaan, pengawetan/pemeliharaan, keselamatan, dan ilusi.

Gambar ketujuh di atas menampilkan Dewa Siwa sedang berdansa bersama Dewi Parwati sebagai sang Bunda Ilahi Tertinggi dalam kepercayaan Hindu yang darinya lahir semua dewi yang memenuhi jagat raya. Perhatikan gambar kelima ini: betapa intim, mesra, harmonis, menyatunya Siwa dan Parwati sebagai istri kedua Siwa dalam suatu tarian erotis dan mistikal.

Mungkin seorang Kristen heterodoks bisa tergoda untuk juga membayangkan Yesus menari dalam suasana yang sama dengan seorang pasangan perempuannya. Siapakah pasangan perempuan Yesus, yang dengannya dia dapat berdansa, untuk bersama-sama lewat dansa mereka menyalurkan energi kreatif kehidupan bagi gerejanya dan bagi dunia? Mungkinkah sang perempuan pasangan berdansa Yesus adalah Maria Magdalena? Jawabnya tentu bergantung pada imajinasi kreatif dan artistik kita masing-masing. Berimajinasilah, dan rayakanlah iman kepada Yesus dengan tari-tarian! Berdansalah mengikuti gerak kuat Roh Yesus Kristus!

Sources of images:
(1) http://miatorgau.melbourneitwebsites.com/page/jesus_laughing_exhibition.html
(2) http://fineartamerica.com/featured/dancing-christ-mark-dukes.html
(3) http://www.flickr.com/photos/18056776@N00/542055762
(4) http://www.lotussculpture.com/nataraja1.htm
(5) http://shrutam.com

by Ioanes Rakhmat