Wednesday, January 27, 2010

Yesus Yahudi Dengan Mata Gelap


Di atas adalah gambar seorang Yesus Yahudi. Kita tahu dia adalah Yesus karena di atas kepalanya melingkar sebuah anyaman mahkota duri tajam. Gambar seluruh wajah, rambut dan kepalanya didominasi warna hitam. Rambut hitamnya menjulur ke bawah acak-acakan, menyatu dengan kumis, cambang dan berewoknya.

Yesus Yahudi ini ditampilkan dengan sangat kelam. Apakah karena dia dipandang sebagai seorang mesias Yahudi yang gagal, ditangkap dan disalibkan sebelum dia menggolkan perjuangannya? Apakah karena dia dijadikan simbol kedukaan dunia berhubung sistem hukum Romawi zamannya bukan membelanya tetapi malah menjatuhkan vonis mati kepadanya padahal dia tidak memiliki kekuatan militer apapun yang bisa membahayakan otoritas Roma di tanah Israel? Ataukah si pelukisnya memang memandang sang lelaki kelam ini adalah sebuah batu sandungan yang memalukan dan membuat gelap sejarah bangsa Yahudi karena dia mati dengan cara memalukan dan penuh aib, disalibkan, padahal dia sendiri melihat dirinya sebagai sang mesias Yahudi, raja Israel?

Apapun juga pertanyaan Anda, simpanlah dulu, karena itu bukan yang terpenting yang mau ditampilkan oleh lukisan ini. Yang terpenting adalah ini: Arahkanlah sepasang mata Anda yang terbuka lebar tegak lurus ke kedua kelopak matanya yang tampak terkatup, dan pandanglah lama-lama kedua kelopak matanya ini! Maka .... apa yang Anda lihat? 

Tiba-tiba saja kedua kelopak matanya yang terkatup ke bawah ini terbuka lebar-lebar, membelalak kepada Anda dengan tajam, seolah dia hendak menyampaikan sebuah pesan kepada Anda. Pesan apa yang Anda tangkap, ceritakanlah!


Sunday, January 10, 2010

Madonna Breastfeeding the Infant Jesus


Di atas adalah foto sebuah patung kecil unik asesoris diorama peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus yang dibeli penulis dari Atlanta, Trudie Barreras, ketika dia berkunjung ke Meksiko pada tahun 2001. Keunikan patung ini terletak pada figur Bunda Maria yang sedang bertelanjang dada meneteki bayi Yesus yang dengan tenang menyedot salah satu puting susu bundanya. Kedua payudara Bunda Maria yang dibiarkan telanjang serta kerlingan lembut dan tajam kedua matanya ke arah sang bayi memberi kesan mendalam pada setiap orang yang memandang patung ini dalam-dalam. Bukan saja sinar cinta dari kedua matanya menghubungkan sang bunda kudus dengan sang bayi buah hatinya, tetapi juga mulut mungil sang bayi terhubung langsung dengan tubuh sang ibu melalui puting susu yang sedang asyik dikenyotnya. Body-to-body touch and connection!

Pembuat patung luar biasa ini bukan sedang mengeksploitasi patung Bunda Maria secara seksual untuk mendapatkan keuntungan material dari penjualan hasil karya seninya ini. Tetapi apa yang diekspresikan melalui patung uniknya ini memberi gambaran impresionistik yang sangat kuat mengenai sifat dan kodrat keibuan sang bunda Maria yang melalui dua buah payudaranya yang padat berisi air susu ibu memberi nutrisi sehat pada sang bayi Yesus, sementara sang Bunda yang sedang menyusui bayinya ini duduk di atas pelana seekor keledai berpunggung dan berkaki kuat.


Anda bertanya, mau pergi ke mana sang Bunda Maria bersama sang bayi Yesus dengan menunggang seekor keledai jantan yang perkasa? Memang Yusuf tidak ditampilkan oleh si pengrajin patung. Tetapi jelaslah kalau si seniman bermaksud menggambarkan perjalanan keluarga kudus ini kabur ke Mesir, meninggalkan Betlehem, untuk menghindari Raja Herodes yang sedang mencari sang bayi untuk dibunuhnya, seperti dikisahkan penulis Injil Matius dalam pasal 2:13-18.


Tentu saja kisah perjalanan ke Mesir oleh keluarga kudus ini bukanlah sebuah kisah yang faktual dulu terjadi. Bagaimana mungkin di tengah lingkungan keras daerah bebatuan dan gurun serta keadaan jalan-jalan setapak yang berat keluarga kudus ini harus menempuh perjalanan sejauh antara 300 sampai 400 kilometer dengan tentu saja bukan naik sebuah Jeep, melainkan dengan menunggang seekor keledai, dengan sekaligus harus merawat dan menjaga kesehatan sang bayi Yesus terus-menerus? Jika perjalanan semacam ini dilakukan oleh perempuan mana pun yang baru melahirkan bersama bayinya yang masih merah, pada keadaan dan kondisi zaman itu di Timur Tengah, ini akan menjadi suatu mimpi buruk, a nightmare, yang akan berujung pada kematian.


Penulis Injil Matius menyusun sebuah episode fiktif pelarian ke Mesir ini karena kebutuhan teologisnya untuk menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh bisa menjadi sang Mesias Israel, Anak Allah, karena Yesus sudah menapaktilaskan perjalanan bangsa Israel, anak Allah, keluar meninggalkan Mesir, rumah perbudakan, untuk masuk ke Tanah Perjanjian (Keluaran 14), setelah untuk beberapa waktu diungsikan oleh kedua orangtuanya ke Mesir. Bahwa episode ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan teologis ini nyata dari sebuah pernyataan yang ditulisnya pada ayat 15, “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku’” (kutipan dari Hosea 11:1), untuk memberi sebuah landasan skriptural bagi kembalinya kanak-kanak Yesus dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Pelarian ke Mesir oleh keluarga kudus ini bisa jadi juga merupakan sebuah fiksi teologis Matius untuk menyejajarkan Yesus dengan Yusuf, anak Rahel, yang dijual seharga dua puluh syikal perak oleh saudara-saudaranya kepada para pedagang dari Midian yang kemudian membawanya ke Mesir dan di sana akhirnya Yusuf menjadi seorang besar yang sangat berkuasa, seperti dikisahkan dalam Kejadian 37:28; 39:1; dan 41:37-45. Pendek kata, episode injil tentang pelarian ke Mesir menempatkan Yesus sejajar dengan para bapak leluhur Israel bahkan mengejawantahkan dalam dirinya sendiri seluruh kolektivitas bangsa Israel sebagai anak Allah, yang dulu Allah, melalui Musa, telah merdekakan dari perbudakan di Mesir.

Thursday, December 24, 2009

Babe Jesuses of Asia Were Born


Inilah pemandangan di sekitar peristiwa kelahiran Yesus menurut imajinasi seorang seniman India. Bukan bintang Betlehem tentunya, tetapi bintang Kalkuta yang dari luar menyinari bayi Yesus yang baru dilahirkan. Cahaya bintang ini sangat cemerlang sehingga mengalahkan cahaya lampu-lampu yang dinyalakan dalam ruangan. Selain seekor keledai menemani mereka bertiga, di latar belakang ada juga beberapa ekor sapi yang bagi orang India adalah hewan suci. Munculnya sapi-sapi ini menjadi ciri khas lukisan kelahiran Yesus India ini.



Bunda Maria India, yang di pergelangan kaki dan tangannya memakai gelang-gelang, sedang menimang bayi Yesus yang baru dilahirkan. Sang bayi yang di pangkuannya sudah bisa diajak bercanda dan tertawa-tawa cerah. Di latar depan bukan seekor ular sedang meliuk-liuk naik ke atas, melainkan sebatang pohon kecil. Kegelapan di latar belakang dikalahkan oleh cahaya kemuliaan ilahi yang memancar dari kepala kedua insan berbahagia ini.


Inilah keluarga kudus yang berbahagia: Maria, bayi Yesus dan Yusuf India. Bintang kecil Kalkuta tampak bersinar jauuuh di atas.


Dalam imajinasi seorang pelukis Tiongkok, ketika bayi Yesus baru dilahirkan, yang mengunjungi mereka adalah para gembala (ataukah para tetangga?) laki-laki dan gembala perempuan. Tuan Yusuf bersimpuh di sebelah kiri Bunda Maria. Yusuf tampak bak seorang pembesar dengan topi kebesarannya yang tidak dilepasnya. Selain seekor kerbau dan seekor keledai, ayam-ayam jantan pun ikut bertamu ke rumah (atau kandang?) sederhana tempat kelahiran Yesus. Pasti hingar bingar suasana di ruangan ini, yang tentunya bisa membuat bayi Yesus ketakutan. Silent night mustinya tidak dirasakan bayi yang kebisingan ini.



Menurut imajinasi seorang pelukis Indonesia (yang namanya tidak diketahui), ketika Yesus dilahirkan yang datang berkunjung adalah para tetangga lengkap dengan membawa anak-anak mereka. Di ruangan tempat bayi Yesus dilahirkan, ada sebuah bale-bale; tetapi kasihannya sang bayi diletakkan di lantai tanah ruangan di atas secarik karung bekas atau sehelai kain tebal. Sukar untuk menemukan mana Bunda Maria dan mana Yusuf, apakah pasangan yang di sebelah kanan ataukah pasangan yang di sebelah kiri. 

Sebagai ganti cahaya benderang bintang di langit, yang menerangi ruangan adalah dua lampu tempel besar dan sebuah lampu tempel kecil. Lampu yang satunya lagi, yang letaknya terdepan, tidak bernyala, mungkin karena sudah kehabisan minyak tanahnya. 

Tidak ada hewan apapun dalam ruangan. Tidak ada tiga raja yang datang. Tidak ada persembahan mas, mur dan kemenyan. Bayi Yesus betul-betul dilahirkan dalam kemiskinan, lahir dalam kondisi kerempeng. Maklum, yang dilahirkan ini adalah bayi Yesus Indonesia di suatu kampung miskin yang tidak tersentuh pembangunan yang banyak dikorupsi oleh para pembesar.


Saturday, November 14, 2009

Jesus as Guru

Gambar batik di atas adalah karya Solomon Raj dari India. Dengan berbasis pada tradisi keagamaan Hindu India, dia melukiskan Yesus sebagai seorang guru sejati, Sadguru, yang sedang mengajarkan dan menuangkan hikmat dan kebenaran hakiki seperti ditampakkan oleh tangan kanannya yang terangkat ke atas. Tangan kirinya berada pada suatu posisi simbolis yang menyatakan seorang yang memiliki perhatian dan belarasa besar untuk menghibur orang yang sedang berduka. Dalam lukisan batik ini, Yesus duduk dalam posisi teratai, padma asana, yang menandakan kesucian dan kekudusan dirinya serta keluasan hikmat ilahi yang dimilikinya. Kepalanya dilukiskan bermahkotakan lingkaran kemuliaan ilahi yang selalu menyertainya kemana pun dia pergi. (Lukisan ini diambil dari http://www.somc.org.uk/resources/symbols.htm)

Dalam kepercayaan religius India, seorang Sadguru mengajarkan orang hal-hal terpenting dalam kehidupan yang perlu diketahui dan dihayati para murid. Seorang Sadguru dipercaya memiliki titiksa (toleransi) dan karuna (belarasa), bersahabat dengan semua makhluk hidup, bebas dari segala nafsu serakah, dan pikiran serta kesadarannya senantiasa terpusat pada Krisna, Allah yang Mahakuasa dalam kepercayaan Hindu. Seorang Sadguru bahkan dipercaya merupakan wujud kehadiran Allah dalam rupa manusia, seorang Avatara. Dalam kepercayaan para penyembah Dewa Siwa (Saiva Sidddhanta), Allah sendiri dipercaya datang dalam rupa seorang guru kebenaran pada waktu para murid, setelah melewati suatu periode persiapan pertarakan, sudah siap menerima pengajaran atau dharma yang membawa orang kepada puncak kesatuan dengan sang Brahman. Dengan demikian, tugas terpenting seorang guru adalah mengajarkan orang tentang dharma dan membawa mereka ke dalam kesatuan dengan Allah yang mahakuasa.


Gambar kedua menampilkan Yesus dan seorang perempuan Samaria yang menjadi teman bercakap-cakap Yesus di dekat sumur Yakub, seperti dituturkan dalam Injil Yohanes 4, tetapi ditampilkan dalam konteks kebudayaan Hindu India. Kain jingga yang meliliti sebagian tubuh Yesus, serta seuntai kalung yang dipakainya, menunjukkan dia seorang suci India, seorang guru, bukan lagi seorang Rabbi Yahudi yang belakangan diakui sang perempuan Samaria itu sebagai sang Mesias (Yohanes 4:29). Sebagai sang Avatara, penjelmaan sang Firman, ho logos, Yesus dalam lukisan ini digambarkan sebagai sang guru India yang mengajarkan pengetahuan mengenai Allah dan membawa orang ke dalam kesatuan dengan Allah sendiri, yang dengan-Nya Yesus dalam Injil Yohanes digambarkan terus-menerus berada dalam satu kesatuan. (Lukisan ini diambil dari http://indologica.de/drupal/?q=node/231)

Tampaknya, pemahaman India tentang Yesus sebagai Sadguru lebih dapat ditampilkan jika sang pelukis mencari inspirasi dari Injil Yohanes dan mengontekstualisasikannya dengan kebudayaan India, ketimbang dari Injil-injil Sinoptik yang menggambarkan Yesus sebagai sang guru yang mengajar pengetahuan mengenai Taurat (lihat Lukas 18:18-27; Matius 19:16-26; Lukas 10:25-28).

Monday, October 26, 2009

The Muslim Madonna and Child Jesus


Di atas ini sebuah lukisan kaum Muslim mengenai Maria (Maryam) yang sedang duduk memangku kanak-kanak Yesus (Isa) di bawah naungan sebatang pohon kurma. Yusuf ada di belakang bukit batu memandang mereka berdua. Selain pada kepala Maryam, pada kepala kanak-kanak Isa dilukiskan ada sebuah mahkota api yang membubung bernyala membakar. Ini adalah sebuah gambaran yang tidak biasa, yang menghubungkan Isa dengan api yang berkobar.



Begitu juga, pada gambar kedua di atas ini, sebuah mahkota api bernyala bertengger pada kepala kanak-kanak Isa yang dipangku Maryam yang sedang duduk di beranda rumah. Sebatang pohon lebat ada di samping mereka.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus memang beberapa kali dihubungkan dengan api. Tetapi yang paling menarik adalah sebuah ucapannya yang dicatat dalam Injil Thomas. Dalam
Injil Thomas logion 82, Yesus bersabda, “Dia yang dekat padaku, dekat dengan api; dia yang jauh dariku, jauh dari kerajaan” (Bdk Injil sang Penyelamat 107.43-48; Origenes, Hom. in Jer. L.I [III], 3.104-105; Didimus si Buta, In Ps. 88.8; Pseudo-Efrem, Eksposisi Injil 83).




Api berfungsi membakar, menghanguskan, memurnikan, dan, tentu saja, menerangi atau mencerahkan. 

Orang yang layak menjadi para pengikut Yesus, yang dekat dengan dirinya, adalah orang yang bersedia dekat dengan api, terbakar, hangus, dimurnikan dan budinya dicerahkan. Tentu ini adalah sebuah metafora tentang orang yang dibentuk kembali secara baru dan dimurnikan serta dicerahkan secara radikal. 

Dalam gambaran apokaliptis, kerajaan sorga adalah kerajaan api. Dalam logion 82 Injil Thomas ini, Yesus disamakan dengan api dari kerajaan sorga dan menyatakan diri-Nya juga sebagai api. Orang yang mengalami kristofani akan merasakan Yesus sebagai api yang membakar, dan orang yang tidak siap akan tidak tahan berhadapan dengan-Nya ketika dia menyatakan kemuliaan sorgawinya dalam api yang bernyala. 

Dalam Injil sang Penyelamat 107.43-48, Yohanes meminta Yesus yang sudah dibangkitkan untuk, dalam kristofaninya, mengurangi cahaya api kemuliaan-Nya, sebab jika tidak demikian, para murid akan tidak tahan dan akan dikuasai kegentaran yang mengerikan dan dibinasakan. Orang yang layak menjadi murid-murid Yesus, dengan demikian, adalah orang yang sanggup bertahan ketika berhadapan dengan Yesus yang berwujud api sorgawi, dan, dalam kedekatannya dengan Yesus, mengalami pencerahan budi.



Friday, October 23, 2009

The Muslim Jesus

Dalam pandangan Islam, Yesus adalah seorang Muslim sejati yang dipilih Allah untuk memanggil orang untuk menerima Islam sebagai “jalan lurus” dan memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Kalau saya “memasrahkan diri kepada kehendak Allah”, maka saya juga seorang Muslim, tanpa perlu mengikrarkan syahadat Islam terlebih dulu. Gampang, ‘ kan? Tetapi kalangan Muslim sendiri seringkali sangat mempersulit orang untuk menjadi Muslim, dengan mengajukan berbagai aturan keagamaan berbelit-belit dan terinci yang harus ditaati, bahkan sampai ada yang perlu menjadi seorang teroris suicide bomber untuk menjadi seorang Muslim sejati.

Inilah gambar wajah Yesus sebagai seorang Muslim: berjenggot, berkumis, bercambang lebat, berkulit sawo matang, memakai sorban hitam. Seorang Kristen ortodoks akan menyatakan, “Aah, orang ini sama sekali tidak mirip dengan Yesus saya!”

Yesus Muslim memakai jubah putih melambangkan kesuciannya,
tetapi gambar ini juga bisa ditafsir sebagai seorang Yesus muslim yang sedang menunaikan ibadah haji


Kalaupun Yesus memiliki kelebihan, dia dipandang paling jauh hanya sebagai seorang nabī atau seorang rasūl. Jangan sekali-kali memaksa kaum Muslim untuk mengakui bahwa Yesus adalah inkarnasi Allah atau Anak Allah yang memiliki ke-praada-an!

Yesus Muslim berjubah putih sampai menutupi kepalanya, kedua belah tangannya terangkat dalam sikap sembahyang, di belakang kepalanya melingkar cahaya kemuliaan dan sebuah salib

Selain itu, ada beberapa gelar lain yang diberikan kepada Yesus dalam tradisi Islam, yakni Yesus sebagai mubārak (= “orang yang diberkati” atau “sumber kebaikan bagi orang lain”), wadjih (“orang yang patut dikagumi di dunia maupun di akhirat”), ‘ abd-Allāh (=hamba Allah), al-Masīḥ (=sang Mesias), kalimatullah (=firman Allah) dan lain-lain.

Ini sebuah sketsa Yesus berwajah Arab, mengenakan sorban bermotif mirip sorban yang dulu biasa dipakai Yasser Arafat; tampaknya sketsa ini belum rampung

Nah, saya akhirnya tergelitik bertanya, Siapa yang lebih tampan, Nabi Muhammad ataukah Yesus Muslim dalam gambar-gambar di atas? Barangkali ada yang mau menyumbang gambar wajah sang Nabi kepada saya?

Sunday, October 11, 2009

The Original Dark-Skinned Jesus

Menurut anda bagaimana rupa wajah Yesus yang sebenarnya? Berkulit putih, berambut panjang pirang dan berombak serta berbiji mata biru, seperti yang mungkin dipajang pada dinding kamar belajar anda? Aah, itu adalah wajah Yesus dari para pelukis Zaman Barok (Renaissance) di Eropa (abad 14-abad 16), yang mula-mula merupakan salah satu dari sekian lukisan wajah Ceasare Borgia, seorang putera berkepribadian buruk dari Paus Aleksander VI (dikenal juga sebagai Rodrigo Borgia) (1431-1503), yang dilukis oleh Michelangelo Buonarroti dan Leonardo da Vinci atas permintaan ayahnya pada tahun 1492 (menurut sebuah catatan Aleksandre Dumes, Celebrated Crimes, jilid I).

Patung 3-Dimensi kepala dan wajah seorang laki-laki di atas tentu tidak anda kenal, bukan? Perhatikanlah: dia berkulit gelap sawo matang dan sedikit hitam, berambut tebal, lurus, pendek, berkeriting kusut dan berwarna hitam, serta kedua biji matanya berwarna coklat. Anda perlu tahu, patung ini adalah sebuah patung kepala Yesus dari Nazaret yang dirancangbangun dengan suatu metode ilmiah oleh sebuah tim yang ditugaskan oleh TV BBC London dengan memakai bukti-bukti medis forensik, arkeologis, geografis dan artistik yang diperoleh dari abad pertama Masehi, masa kehidupan Yesus sendiri. Potret patung ini dipublikasi pertama kali secara khusus pada suatu acara tayangan TV BBC selama musim Paskah 2001, tayangan yang diberi judul Son of God.

Bentuk dan volume tengkorak patung ini dirancang dengan memakai sebuah model dari sebuah tengkorak laki-laki yang ditemukan di Israel, yang berasal dari abad pertama. Hal ini harus dilakukan sebab, seperti dijelaskan oleh tim BBC itu, “Kepala orang-orang Yahudi pada masa kini berbeda dari kepala mereka pada 2000 tahun lalu; karena itulah tim kami mencari sebuah tengkorak seorang laki-laki Yahudi dari masa kehidupan Yesus.” Pengonstruksian patung kepala Yesus dari Nazaret ini sendiri ditangani oleh seorang seniman medis forensik Richard Neave dari Universitas Manchester. Salah seorang anggota tim BBC itu, Joe Zias, seorang arkeolog Israel, menyatakan, “Dalam merekonstruksi kepala ini, kami tidak mengklaim bahwa inilah persisnya wajah Yesus; tetapi kami mencoba untuk menyingkirkan semua citra buruk sekian banyak figur Yesus yang bukan-bukan, yang dilukiskan berambut pirang, bermata biru, yang menjadi ciri produk-produk Hollywood.” Jeremy Brown, presenter tayangan Son of God ini, berkomentar, “Yesus bukanlah seorang yang berambut pirang dan bermata biru, seperti yang sangat sering digambarkan dalam kartu-kartu Paskah. Citra yang kami telah bangun jauh lebih realistik.”

Kalau ditelusuri ke belakang, ternyata gambar-gambar wajah Yesus yang bukan gambar-gambar dari Zaman Barok cukup banyak tersedia, yang memperlihatkan Yesus bukan seorang kulit putih, berambut pirang dan bermata biru. Perhatikanlah gambar dan patung di bawah ini, yang lebih mirip dengan gambar patung Yesus dari Nazaret yang dihasilkan tim BBC di atas.

Wajah Yesus berkulit gelap kehitaman dengan sepasang mata hitam di atas ini berasal dari sebuah gereja di Roma, dari kurun tahun 530 M. Gambar ini sama sekali tidak mirip dengan gambar wajah Yesus Zaman Barok manapun yang dilukis jauh lebih kemudian.

Patung seorang perempuan di atas ini terkenal sebagai Black Madonna, Bunda Maria Hitam, yang sedang memangku kanak-kanak Yesus yang tentu saja juga berkulit hitam. Patung ini bukanlah patung-patung yang dibangun di zaman modern untuk mempropagandakan Teologi Hitam sebagaimana dihayati banyak orang Kristen kulit hitam di Afrika maupun di Amerika Utara oleh modern black Americans. Patung-patung Madonna Hitam semacam ini, ada yang dibuat dari kayu dan ada juga yang dari batu, jumlahnya sampai lima atau enam ratusan lebih dan dibuat pra-zaman Barok, pada zaman Abad Pertengahan (abad ke-11 sampai abad ke-15), dan sekarang ini tersebar di banyak gereja, kuil, tempat suci dan museum di banyak kota di Eropa Barat, mula-mula dibuat di Italia pada abad ke-13 atau abad ke-14. Mengapa keduanya berkulit hitam? Salah satu penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa Black Madonna menampilkan warna kulit yang sebenarnya dari Bunda Maria dan puteranya, Yesus.


Perhatikan raut wajah Yesus dari Ethiopia abad ke-17 atau abad ke-18 pada gambar di atas ini. Kulit wajahnya berwarna sawo matang, dengan rambutnya hitam kelam tebal dan sepasang biji matanya berwarna hitam. Wajah Yesus Ethiopia abad ke-17 ini sama sekali tidak mirip dengan wajah Yesus Zaman Barok.

Di atas ini adalah sebuah lukisan wajah Yesus berkulit gelap, berambut hitam tebal kusut dan bermata hitam, dari tahun 1960. Wajahnya hampir serupa dengan wajah Yesus yang dibangun oleh tim BBC di atas.

Apa kesimpulan yang bisa ditarik? Ya, tidak lain, bahwa wajah Yesus berkulit putih, berambut pirang panjang dan bermata biru, Yesus Zaman Barok, bukanlah wajah asli Yesus dari Nazaret. Dan, tentu saja, orang Kristen yang sudah terbiasa berpaling ke Eropa untuk mencari sumber-sumber kekayaan dogmatis dan spiritual mereka akan sangat tidak menyukai sang Yesus yang berkulit gelap sawo matang, berambut hitam pekat, pendek dan agak kusut, serta berbijimata coklat, seperti yang telah berhasil direkonstruksi oleh tim BBC.

Bagi orang-orang Kristen ortodoks Eropa, termasuk orang-orang Kristen ortodoks Indonesia, Yesus dari tim BBC ini sungguh suatu penghinaan, sungguh suatu ajaran yang heterodoks dan karenanya patut ditolak dan dikutuki. Yesus heterodoks dari tim BBC ini sangat membuat mereka merasa diserang dan dilukai, persis sama dengan perasaan orang-orang Farisi ketika mereka melihat Yesus dari Nazaret
sedang duduk dan makan semeja dengan para pemungut cukai dan orang berdosa, padahal sang rabi informal ini boleh dikata sama pekerjaannya dengan mereka sebagai guru-guru masyarakat. Tetapi, orang harus tidak boleh lupa, di dalam heterodoksi kebenaran malah sering lebih kentara ada, ketimbang di dalam ortodoksi. Berbahagialah mereka yang heterodoks!