Showing posts with label Kanak-kanak Yesus. Show all posts
Showing posts with label Kanak-kanak Yesus. Show all posts

Monday, January 31, 2011

Bunda Maria Berkain dan Berselendang Batik
























Gambar di atas ini dinamakan Notre-Dame-du-Sacré-Cœur, “Our Lady of the Sacred Heart”, Bunda Hati Kudus Kita, dilihat dari sudut pandang Indonesia. 

Bunda Maria yang memakai kain dan berselendang batik ini, serta berkebaya biru, sementara berdiri tegak dengan anggun, sedang menggendong kanak-kanak Yesus. 

Pada kepala keduanya terdapat halo, tanda keilahian mereka. Tangan kanan Maria memegang hati kudus kanak-kanak Yesus, sedangkan tangan kirinya menopang Yesus. Keduanya sedang tersenyum. 

Di latar belakang, langit biru, awan putih, daun-daun hijau dan kuning, serta rumput hijau di tanah luas, menandakan alam ikut serta di dalam kekudusan sang Bunda dan puteranya.

Monday, October 26, 2009

The Muslim Madonna and Child Jesus


Di atas ini sebuah lukisan kaum Muslim mengenai Maria (Maryam) yang sedang duduk memangku kanak-kanak Yesus (Isa) di bawah naungan sebatang pohon kurma. Yusuf ada di belakang bukit batu memandang mereka berdua. Selain pada kepala Maryam, pada kepala kanak-kanak Isa dilukiskan ada sebuah mahkota api yang membubung bernyala membakar. Ini adalah sebuah gambaran yang tidak biasa, yang menghubungkan Isa dengan api yang berkobar.



Begitu juga, pada gambar kedua di atas ini, sebuah mahkota api bernyala bertengger pada kepala kanak-kanak Isa yang dipangku Maryam yang sedang duduk di beranda rumah. Sebatang pohon lebat ada di samping mereka.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus memang beberapa kali dihubungkan dengan api. Tetapi yang paling menarik adalah sebuah ucapannya yang dicatat dalam Injil Thomas. Dalam
Injil Thomas logion 82, Yesus bersabda, “Dia yang dekat padaku, dekat dengan api; dia yang jauh dariku, jauh dari kerajaan” (Bdk Injil sang Penyelamat 107.43-48; Origenes, Hom. in Jer. L.I [III], 3.104-105; Didimus si Buta, In Ps. 88.8; Pseudo-Efrem, Eksposisi Injil 83).




Api berfungsi membakar, menghanguskan, memurnikan, dan, tentu saja, menerangi atau mencerahkan. 

Orang yang layak menjadi para pengikut Yesus, yang dekat dengan dirinya, adalah orang yang bersedia dekat dengan api, terbakar, hangus, dimurnikan dan budinya dicerahkan. Tentu ini adalah sebuah metafora tentang orang yang dibentuk kembali secara baru dan dimurnikan serta dicerahkan secara radikal. 

Dalam gambaran apokaliptis, kerajaan sorga adalah kerajaan api. Dalam logion 82 Injil Thomas ini, Yesus disamakan dengan api dari kerajaan sorga dan menyatakan diri-Nya juga sebagai api. Orang yang mengalami kristofani akan merasakan Yesus sebagai api yang membakar, dan orang yang tidak siap akan tidak tahan berhadapan dengan-Nya ketika dia menyatakan kemuliaan sorgawinya dalam api yang bernyala. 

Dalam Injil sang Penyelamat 107.43-48, Yohanes meminta Yesus yang sudah dibangkitkan untuk, dalam kristofaninya, mengurangi cahaya api kemuliaan-Nya, sebab jika tidak demikian, para murid akan tidak tahan dan akan dikuasai kegentaran yang mengerikan dan dibinasakan. Orang yang layak menjadi murid-murid Yesus, dengan demikian, adalah orang yang sanggup bertahan ketika berhadapan dengan Yesus yang berwujud api sorgawi, dan, dalam kedekatannya dengan Yesus, mengalami pencerahan budi.



Friday, September 4, 2009

Different Madonnas and Child Jesuses

Ketiga gambar di samping kiri ini masing-masing menampilkan seorang ibu bersama seorang anak laki-lakinya. Ibu yang pertama memangku putra kecilnya yang telanjang bulat; sedang ibu yang kedua dan yang ketiga menggendong masing-masing putra ciliknya yang berpakaian.

Gambar pertama dan gambar kedua tidak mengesankan sesuatu yang istimewa bagi orang yang memandangnya. Ya..., kedua gambar pertama tampak biasa saja: seorang ibu berkulit hitam sedang mengemong putra kecilnya yang warna kulitnya sama dengan warna kulit ibunya. Bagi Anda mungkin kedua gambar ini gambar tentang hal yang rutin dan biasa dilakukan seorang bunda. Tetapi, perhatikan, si ibu pada gambar pertama duduk bersila dan kedua matanya terpejam, sepertinya dia sedang khusuk mengonsentrasikan pikirannya pada putra ciliknya yang sedang dipangkunya. Gambar ketiga baru kelihatan istimewa, karena selain menampilkan seorang ibu yang sedang menggendong putra kecilnya, di belakang kepala masing-masing digambar cakram mahkota cahaya kuning yang biasanya dipahami sebagai cahaya kemuliaan ilahi yang memancar dari wajah orang-orang suci.

Tetapi, sesungguhnya ketiga gambar ini adalah gambar-gambar
istimewa, karena masing-masing gambar ini sama-sama menampilkan Madonna atau Bunda Maria bersama putra kecilnya, Yesus. Masing-masing gambar mengekspresikan Madonna dan kanak-kanak Yesus dengan paras, postur, warna kulit dan pakaian yang satu sama lain berbeda. Ditampilkan di sini tiga Madonna dan tiga kanak-kanak Yesus yang berlainan.

Madonna dan kanak-kanak Yesus pada gambar pertama di atas adalah Madonna dan kanak-kanak Yesus orang Papua New Guinea (PNG), suatu negeri yang terletak di Kepulauan Melanesia, Oseania, di Samudra Pasifik, yang berpenduduk kurang dari 6 juta orang, dengan bagian terbesar darinya (82 %) tinggal di kawasan pedesaan, dan memiliki 850 bahasa pribumi. Hampir semua penduduk PNG (96 %) beragama Kristen yang mencakup minimal 12 denominasi yang berbeda. Meskipun demikian penduduk negeri ini, dengan sepertiganya masih hidup dalam kemiskinan ekstrim (hidup dengan kurang dari 1,25 US Dollar per hari), tetap melekat pada animisme dan pemujaan roh nenek moyang, minimal dalam dasar batin mereka.

Sedangkan gambar Madonna dan kanak-kanak Yesus yang di tengah adalah buah karya seorang seniman Kristen Afrika, suatu benua terbesar kedua di dunia dan juga terpadat kedua penduduknya di planet Bumi ini, dengan total jumlah penduduk 1 milyar orang menurut sensus tahun 2009, yang tersebar di negara-negara yang seluruhnya berjumlah 53 (belum termasuk kawasan sengketa di Sahara Barat). Meskipun kaya dengan sumber-sumber alam, Afrika adalah benua termiskin dan terbelakang di dunia, karena penyakit dan virus (HIV/AIDS dan malaria), pemerintahan domestik yang korup dan menindas HAM, kegagalan program-program pembangunan terencana, tingkat buta huruf yang tinggi, konflik militer dan konflik antar-suku, tidak adanya akses ke modal asing. Dari total jumlah penduduk, 380 juta di antaranya, yang mendiami kawasan Afrika Sub-Sahara, hidup sangat miskin, dengan hanya 70 sen US Dollar per hari (di tahun 2005).

Madonna dan kanak-kanak Yesus pada gambar ketiga berkulit kuning langsat. Dugaan Anda benar bahwa mereka adalah Madonna dan Yesus bangsa China, suatu bangsa besar yang memiliki suatu peradaban yang sudah berumur sangat panjang, sudah dimulai dan terus berlanjut sejak 5000 tahun lalu, yang pada akar-akarnya tertanam suatu kepercayaan dan penyembahan terhadap Shangdi, Allah Yang Esa dan Maha Agung, atau Langit. Kepercayaan dan pemujaan pada Langit ini setidaknya sudah dianut sejak Dinasti Shang (1766 SM) sampai tumbangnya dinasti terakhir tahun 1911 M. Kepercayaan pada Shangdi ini dengan demikian mendahului Taoisme, Konfusianisme dan masuknya Buddhisme dari India dan Asia Tengah pada masa Dinasti Han (206 SM-220 M), dan kekristenan sejak setidaknya abad 7 M dengan masuknya Gereja Timur Assyria, dan masuknya Islam pada tahun 651 melalui kegiatan perdagangan, dan juga Yudaisme pada abad ke-7 atau ke-8 M serta paruhan pertama abad ke-20 ketika Holokaus terjadi di Eropa. Sekarang, pemerintah negeri China sudah berhasil mengangkat rakyatnya dari kemiskinan, rakyat yang berjumlah sangat besar, 20% dari total penduduk dunia (6,7 miliar), persisnya 1.338.612.968 orang per Juli 2009. Menurut IMF, pendapatan per kapita negeri ini adalah 5.943 USD di tahun 2008; meskipun demikian, sampai tahun 2005 sejumlah 10,8 % penduduknya masih hidup kurang dari 1 USD per hari.

Anda bisa jadi bertanya-tanya, mana Madonna dan kanak-kanak Yesus yang asli? Jawabnya: ketiganya adalah Madonna dan kanak-kanak Yesus asli! Masing-masing gambar ini adalah gambar-gambar autentik buah tangan para seniman yang memandang, menghayati dan mengekspresikan Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus dari sudut pandang kebudayaan dan kebangsaan serta sejarah masing-masing yang unik. Setiap bangsa dan kebudayaan melahirkan wajah Madonna dan wajah Yesus sendiri-sendiri dalam konteks sejarah dan konteks ruang yang berbeda. Meskipun berbeda dari wajah Madonna dan wajah kanak-kanak Yesus yang orang Kristen biasa kenali dari warisan
mariologi dan kristologi Barat, setiap ekspresi artistik wajah Madonna dan wajah Yesus yang non-Barat, non-ortodoks, yang heterodoks, adalah ekspresi yang autentik, unik dan absah, dan sama nilai, martabat dan harganya, dan karena itu patut diakui oleh orang Kristen di tempat-tempat lain.

Wednesday, September 2, 2009

Wajah Asia Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus




Menurut Anda, siapakah sang ibu dan anak yang digendongnya pada gambar di sebelah ini? 

Perhatikan, ada sebuah lingkaran mahkota kemuliaan ilahi pada masing-masing figur. Selain itu, sang ibu dan sang putra masing-masing juga mengenakan sebuah mahkota berwarna merah, yang biasa dipakai kalangan ningrat bangsa China tempo dulu, dan rambut keduanya tampak tegas berwarna hitam pekat. 

Raut dan warna kulit wajah keduanya jelas bukan raut wajah dan warna kulit muka orang Barat. Perhatikan, sepasang biji mata keduanya berwarna hitam. 

Seutas rantai perak panjang melingkar di leher sang ibu dan terjuntai ke bawah. Model pakaian warna dasar kuning serta motif kembang warna-warni yang menghiasi pakaian keduanya menunjukkan pakaian orang Asia, persisnya pakaian kaum bangsawan China, ketimbang pakaian orang Eropa atau orang Amerika. 

Di latar belakang, kayu dan papan berukir warna coklat makin menampilkan alam Asia. Anda mungkin menerka, sang anak adalah Siddharta Gautama yang sedang digendong oleh Mahaprajapati, saudara perempuan ibunya yang baik hati, yang menjadi sang inang pengasuh Siddharta sampai dia dewasa. Tetapi, kebanyakan orang akan menyatakan sang ibu pada gambar ini adalah Bunda Maria dan sang anak adalah Yesus kanak-kanak yang keduanya ditampilkan secara artistik dari sudut pandang alam dan kebudayaan Asia.

Nah, pada blog saya ini, yang saya beri nama The Jesus Blog, saya akan melakukan eksplorasi dan kajian khusus hanya mengenai diri Yesus dari Nazareth berdasarkan aneka ragam teks kuno dan teks modern, dan menampilkan serta mengomentari berbagai paras wajah Yesus dan penampilannya yang dilukiskan oleh seniman-seniman dari berbagai macam kebudayaan di dunia ini, dulu maupun kini.

The Jesus Blog
ini saya bangun karena cinta saya yang mendalam terhadap Yesus, cinta yang membuat saya memberontak pada gereja yang memasung dan memenjarakan Yesus dalam dogmatisme beku sehingga dia kehilangan autentisitas dan kebebasan azasinya. 

Jika Anda memiliki gambar-gambar Yesus yang dibuat dalam konteks kebudayaan Anda di Indonesia, kirimkanlah kepada saya untuk saya up-load di blog ini. Selamat mengikuti The Jesus Blog dan silakan berpartisipasi dengan kreatif di dalamnya.

Be weird.