



Apakah gambaran tentang Yesus yang berdansa tidak kristiani? Oh, sama sekali tidak demikian! Yesus menari, sangatlah kristiani; sebab ada sebuah teks suci Kristen yang menuturkan Yesus menari bersama-sama murid-muridnya. Teks ini dapat kita baca dalam sebuah dokumen yang diberi nama Kisah Rasul Yohanes (The Acts of John), yang ditulis pada abad 2 M sebagai sebuah karya sastra jenis roman, dengan menerima pengaruh dari tradisi teologi komunitas Yohanes. Teologi dokumen apokrif ini bercorak Kristen gnostik Valentinian, yang dituangkan paling kentara dalam pasal 94-102. Di dalam dokumen ini (pasal 94-96) dituturkan bahwa pada saat Perjamuan Terakhir, sebelum dia disalibkan, Yesus berkata, “Sebelum aku diserahkan kepada mereka, marilah kita menaikkan sebuah kidung pujian kepada sang Bapa lalu kita sama-sama menghadapi apa yang akan terjadi di depan kita.” Setelah berkata demikian, Yesus meminta murid-muridnya berdiri membentuk sebuah lingkaran dengan satu sama lain bergandengan tangan, dan dia sendiri berdiri di tengah lingkaran itu, lalu bersama dengan semua muridnya Yesus menari-nari dengan sangat kuat. Setiap Yesus selesai menaikkan madah, murid-muridnya, sambil menari-nari, menyambut dengan seruan “Amin!” Tarian Yesus bersama murid-muridnya serta madah yang dinyanyikannya ini disebut sebagai Tarian Salib Melingkar (the Round Dance of the Cross). Selengkapnya, madah yang dinaikkan Yesus dan respons antifonal semua muridnya berikut ini.
Kemuliaan bagimu, bapa.
Amin.
Kemuliaan bagimu, firman.
Kemuliaan bagimu, rakhmat.
Amin.
Kemuliaan bagimu, roh.
Kemuliaan bagimu, sang kudus.
Kemuliaan bagi kemuliaanmu.
Amin.
Kami puji engkau, bapa.
Kami bersyukur kepadamu, terang,
di dalammu tidak ada kegelapan.
Amin.
Aku nyatakan mengapa kami bersyukur:
aku akan diselamatkan
dan aku akan menyelamatkan.
Amin.
Aku akan dibebaskan
dan aku akan membebaskan.
Amin.
Aku akan dilukai dan aku akan melukai.
Amin.
Aku akan dilahirkan dan aku akan melahirkan.
Amin.
Aku akan memakan dan aku akan dimakan.
Amin.
Aku akan mendengar dan aku akan didengar.
Amin.
Aku akan diingat,
dan aku adalah ingatan yang murni.
Amin.
Aku akan dibasuh dan aku akan membasuh.
Amin.
Rakhmat berdansa.
Aku akan meniup seruling.
Marilah, setiap orang, berdansa.
Amin.
Aku akan meratap.
Setiap orang, merataplah.
Amin.
Kawasan delapan kidung bersama kita.
Amin.
Bilangan keduabelas berdansa di atas.
Amin.
Seluruh jagat berdansa bersama kita.
Amin.
Jika engkau tidak berdansa,
engkau tidak mengetahuinya.
Amin.
Aku akan lari jauh dan aku akan tetap di sini.
Amin.
Aku akan menghias dan aku akan dihias.
Amin.
Aku akan disatukan dan aku akan menyatukan.
Amin.
Aku tidak memiliki rumah
dan aku memiliki banyak rumah.
Amin.
Aku tidak bertempat tinggal
dan aku akan memiliki banyak tempat.
Amin.
Aku tidak memiliki bait
dan aku memiliki banyak bait.
Amin.
Aku adalah sebuah pelita bagimu yang melihatku.
Amin.
Aku adalah sebuah cermin bagimu yang mengenalku.
Amin.
Aku adalah sebuah pintu bagimu yang mengetukku.
Amin.
Akulah sebuah jalan bagimu, wahai musafir.
Amin.
Jika engkau mengikuti dansaku,
lihatlah dirimu ada di dalamku ketika aku berbicara.
Jika engkau sudah melihat apa yang kuperbuat,
simpanlah dalam hatimu apa yang menjadi misteriku.
Engkau yang menari,
pertimbangkanlah apa yang kulakukan.
Penderitaanmu adalah
penderitaan insani yang harus kutanggung.
Engkau tidak akan pernah memahami apa yang engkau derita
kecuali aku sang firman diutus kepadamu oleh sang bapa.
Engkau yang telah melihat apa yang kulakukan
telah melihat aku sebagai penderitaan,
dan pada saat engkau melihatnya,
engkau tidak kokoh berdiri
tetapi sangat tergoyangkan.
Engkau digoyangkan menuju hikmat,
dan engkau mendapat pertolonganku.
Rehatlah di dalamku.
Siapa aku, engkau akan tahu kalau aku pergi.
Apa yang sekarang terlihat pada diriku,
itu bukanlah aku yang sesungguhnya.
Siapa aku sebenarnya,
engkau akan lihat kalau engkau mau datang.
Seandainya engkau tahu bagaimana harus menderita
engkau akan dapat tidak menderita.
Belajarlah bagaimana menderita
maka engkau akan dapat tidak menderita.
Apa yang engkau tidak ketahui,
aku akan ajarkan kepadamu.
Akulah Allahmu,
bukan Allah si pengkhianat.
Aku mendambakan jiwa-jiwa yang suci
selaras dengan diriku.
Ketahuilah firman hikmat.
Katakanlah bersamaku,
Kemuliaan bagimu, bapa.
Kemuliaan bagimu, firman.
Kemuliaan bagimu, roh.
Amin.
Jika engkau ingin tahu siapa aku dahulu,
aku menertawakan segalanya dengan firman ini,
dan aku sama sekali tidak ditertawakan.
Aku melompat-lompat karena girang.
Pahamilah segala sesuatu,
dan ketika engkau telah memahaminya,
beritakanlah.
Kemuliaan bagimu, bapa.
Amin.
Sayangnya, dokumen apokrif Kisah Rasul Yohanes ini oleh Paus Leo Agung (menjabat dari 24 September 440 sampai 10 November 461) pada abad kelima dicap sebagai sebuah dokumen yang menyesatkan. Sang Paus menyatakan secara resmi bahwa dokumen ini “berisi sebuah ranjang panas yang menyesatkan dan karenanya harus bukan hanya dilarang tetapi juga dienyahkan sama sekali dan dibakar dengan api.”
Bagaimanapun juga, dengan adanya Kisah Rasul Yohanes, kekristenan memiliki sebuah tradisi langka yang menyatakan bahwa Yesus bernyanyi dan berdansa bersama murid-muridnya. Tarian yang Yesus bersama murid-muridnya gerakkan, dan madah serta respons murid-muridnya, menyatukan mereka semua dengan jagat raya, menyatukan Yesus dengan murid-muridnya sehingga dia ada di dalam mereka dan mereka ada di dalamnya, dan dengan kesatuan mistikal lewat tarian hebat ini para murid disucikan dan menerima kekuatan untuk dapat menanggung penderitaan dan mengetahui cara bagaimana menaklukkan penderitaan.
Sebetulnya, dalam banyak agama tradisional di seluruh dunia, dulu maupun kini, para tokoh suci agama-agama, jadi bukan hanya Yesus, digambarkan memakai tari-tarian sebagai media untuk menyalurkan kekuatan ilahi kepada umat dan dunia ini, dan tari-tarian mereka menyimbolkan gerak energik ketuhanan yang menjadi fondasi dasar seluruh ciptaan.
Hinduisme sebagai suatu agama yang sudah sangat tua umurnya, jauh lebih tua dari kekristenan, mengenal tradisi pemikiran dan kesenian semacam ini. Gambar kelima dan keenam di atas menampilkan Dewa Siwa sedang melakukan tarian; dan dalam pose dansanya ini Siwa dikenal sebagai sang Nataraja, sang Raja Pedansa. Pose Siwa dalam Nataraja dan segala pernak-pernik yang dipegangnya dan yang ada bersamanya penuh dengan makna simbolik yang berjangkauan kosmik. Ringkas kata, tarian Siwa Nataraja ini menyimbolkan siklus kosmik penciptaan dan pembinasaan dan juga ritme kelahiran dan kematian sebagai pengalaman kehidupan manusia dan segenap makhluk hidup setiap hari, yang semuanya mengalir keluar dari Dewa Siwa. Jelas, dansa Nataraja adalah sebuah alegori artistik yang menunjuk pada lima wujud prinsipil keberadaan energi yang kekal dalam jagat raya, mulai dari partikel sub-atomik sampai jagat raya mahabesar: penciptaan, pembinasaan, pengawetan/pemeliharaan, keselamatan, dan ilusi.

Mungkin seorang Kristen heterodoks bisa tergoda untuk juga membayangkan Yesus menari dalam suasana yang sama dengan seorang pasangan perempuannya. Siapakah pasangan perempuan Yesus, yang dengannya dia dapat berdansa, untuk bersama-sama lewat dansa mereka menyalurkan energi kreatif kehidupan bagi gerejanya dan bagi dunia? Mungkinkah sang perempuan pasangan berdansa Yesus adalah Maria Magdalena? Jawabnya tentu bergantung pada imajinasi kreatif dan artistik kita masing-masing. Berimajinasilah, dan rayakanlah iman kepada Yesus dengan tari-tarian! Berdansalah mengikuti gerak kuat Roh Yesus Kristus!
Sources of images:
(1) http://miatorgau.melbourneitwebsites.com/page/jesus_laughing_exhibition.html
(2) http://fineartamerica.com/featured/dancing-christ-mark-dukes.html
(3) http://www.flickr.com/photos/18056776@N00/542055762
(4) http://www.lotussculpture.com/nataraja1.htm
(5) http://shrutam.com
by Ioanes Rakhmat