Selamat hari Natal!
The Jesus Blog containing my quests for the artistic Jesuses around the globe. Pakailah imajinasimu, sebab imajinasi adalah kebajikan dan langit adalah batasnya jika langit memiliki batas!
Friday, December 24, 2010
Yesus dalam Lego Game
Selamat hari Natal!
Sunday, October 31, 2010
Yesus Ternyata Bisa Tertawa...

Orang mengatakan bahwa seorang yang sangat serius biasanya akan berumur pendek. Faktanya, Yesus mati ketika dia masih muda. Musuh-musuh-Nya membenci-Nya karena Dia terlalu serius dengan tujuan-Nya untuk mendirikan suatu pemerintahan Allah beyond politics di tanah Yahudi yang sedang dijajah Roma.
Tetapi, pada gambar di atas, seorang seniman Bali, I Gede Sukana Kariana, dari Den Pasar, Bali, Indonesia, melukiskan Yesus sedang tersenyum lebar sementara anak-anak mengerumuninya.
Orang Kristen sebetulnya masih memiliki sebuah injil ekstrakanonik yang diberi nama Injil Yudas yang di dalamnya Yesus digambarkan tertawa ketika dia berada bersama murid-murid-Nya. Ini adalah suatu kabar baik; tetapi kabar buruknya adalah bahwa di sini, dalam injil apokrifal ini, tawa Yesus digambarkan sebagai suatu tawa yang sedikit bernada sinis.
Satu kepercayaan popular dalam folklor menyatakan bahwa jika orang mengusap perut Budai yang gendut, orang itu akan menerima kegembiraan, kekayaan, hoki, dan kesejahteraan. Ya, memandang patung Budai saja sudah sanggup menimbulkan rasa senang di hati.
Monday, September 13, 2010
Yesus dan Anak-anak Berbagai Negeri
“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, dia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:14-15)Mari kita perhatikan lukisan-lukisan berikut yang diangkat dari kisah-kisah injil tentang perjumpaaan dan penerimaan Yesus terhadap anak-anak, dengan corak dan pemaknaan lokal yang diberikan masing-masing pelukisnya.


Gambar keempat di atas dilukis oleh Masaru Horie, Kobe, Jepang. Dalam suatu perjalanan ke Yerusalem, Yesus Jepang didatangi kaum ibu yang membawa anak mereka masing-masing untuk diterima Yesus dan diberkati.
Sudah terlalu biasa kita mendengar penjelasan bahwa Yesus memakai contoh anak-anak sebagai kalangan yang mudah masuk ke dalam pemerintahan Allah karena anak-anak adalah orang yang polos, tidak ada noda kejahatan dan prasangka buruk dalam hati mereka, dan hanya bisa bergantung pada seseorang yang lebih tua, dan karena itu tepat menjadi contoh orang yang dapat bergantung sepenuhnya kepada Allah dan pemerintahan-Nya. Tentu benar bahwa anak-anak memiliki semua sifat ini.
Tetapi sebetulnya, dalam sistem sosial dunia Yunani-Romawi pada masa kehidupan Yesus, anak-anak adalah kalangan yang paling menderita dan mudah dikorbankan oleh orang lain yang lebih berkuasa dari mereka; anak-anak adalah kalangan yang paling rentan terkena perlakuan keras dan diterbengkalaikan, sama seperti orang-orang dewasa yang miskin, yang tak memiliki apa-apa pada diri mereka kecuali tenaga kasar yang dapat dijual dengan harga murah sebagai kuli atau budak.
Pray for the poor.
Saturday, June 5, 2010
Yesus Menyelamatkan
Seorang Perempuan Pezinah
Mengingat fakta bahwa bagi semua orang Yahudi pada masa kehidupan Yesus hukum Taurat Musa harus diberlakukan tanpa kompromi, maka kita tidak dapat memastikan apakah peristiwa ini betul-betul terjadi. Tema umum injil-injil Perjanjian Baru bahwa Yesus berada di atas hukum Taurat (Markus 2:27-28) muncul dalam perikop ini.
Setelah mempertimbangkan ketiga gambar di atas, dengan sebuah perikop dari Injil Yohanes sebagai latarbelakang, apakah Anda berpendapat bahwa seorang lelaki harus berperan sebagai sang pelindung seorang perempuan? Ataukah halnya lebih dekat kepada kebenaran jika seorang perempuan harus dan dapat melindungi dan membela dirinya sendiri ketimbang memohon belas kasihan dan kekuatan seorang pria?
Saturday, May 29, 2010
Hati Kudus Yesus

Gambar yang mengesankan di atas dibuat oleh Peter Grahame pada 2005, dan dia memberinya judul Lidah Api Batiniah (Inner Flame).

Stay holy.
Saturday, April 24, 2010
Maria Magdalena: Si Penggoda Yesus?

Patung yang mengesankan ini sekarang dapat dijumpai di museum Louvre di Paris, dan pertama kali muncul di muka umum pada waktu suatu pasar seni digelar di Jerman pada abad XIX dan dibeli oleh museum ini pada 1902.
Menurut sebuah legenda, Maria Magdalena (yang dengan keliru dicap sebagai seorang pelacur yang bertobat oleh Paus Gregorius Agung pada 591) menjalani suatu kehidupan terasing di dalam sebuah goa Sainte-Baume, dengan pakaiannya hanya berupa rambutnya yang lebat dan panjang.
Setiap hari, menurut legenda ini, Maria diangkat ke sorga oleh para malaikat untuk mendengarkan paduan suara sorgawi.
Raut wajahnya yang lemah dan posisi meditasinya dimaksudkan untuk mengekspresikan ekstasi mistiknya, sementara kecantikannya yang luar biasa dan rambut emasnya yang halus dimaksudkan untuk mengungkapkan pancaran kemuliaan dan kesuciannya.
Para mistikus sedunia, dulu maupun kini, menggunakan gambaran sensual ketika mereka ingin mengungkapkan hubungan terdalam mereka dengan Yang Kudus, das Heilige. Dengan demikian, ketelanjangan Maria Magdalena menyimbolkan hubungannya yang terdalam dan terintim dengan Yang Ilahi.
Gambar di atas: Yesus dan Maria Magdalena; keduanya bertelanjang dada. Suatu pesan erotikkah, atau suatu pesan mistikal?
Tetapi penulis Injil Yohanes tidak mengatakan bahwa selama perjumpaan ini, murid-murid pria Yesus juga hadir bersama Maria Magdalena. Sukar untuk kita memutuskan di mana kita harus menempatkan gambar ini dalam masa kehidupan Yesus.
Meskipun ada kesulitan ini, setiap orang dapat menangkap suatu pesan erotik dari gambar ini.
Dalam Injil Filipus 63-64, kita menemukan sebuah teks luar biasa yang mencatat sisi erotik hubungan Yesus dan Maria Magdalena, sebagai berikut:
Sahabat sang penyelamat adalah Maria Magdalena. Sang Penyelamat mengasihinya lebih dari Dia mengasihi semua murid lainnya, dan Dia sering menciumnya pada mulutnya (Marvin Meyer, The Gospels of Mary [2004], 49).Kata “mulut” tidak pasti sebab pada poin ini teksnya telah rusak. Namun, kita masih memiliki teks-teks kuno lain yang mengisahkan Yesus secara khusus memang mencintai Maria Magdalena, yakni Injil Maria 10; 17-18; Pistis Sofia 17; 19.
Apakah kata “sahabat” dalam Injil Filipus 63-64 berarti “pasangan” atau “istri” atau “mitra seksual”?
Apakah semua teks ini sebetulnya menyingkapkan sisi seksual hubungan Yesus dengan Maria Magdalena? Atau apakah semua teks ini ingin mengatakan adanya sisi mistikal dalam hubungan Yesus dan Maria Magdalena?
Apapun maksud semua teks ini, tampaknya sudah pasti bahwa Maria Magdalena sebagai seorang perempuan adalah suatu bagian penting dari kehidupan Yesus dari Nazareth yang paling personal, sehingga peran Maria Magdalena dalam kehidupan Yesus haruslah dengan serius diperhitungkan.
Perhatikan gambar di atas. Siddartha Gautama sedang dicobai oleh Maara, si jahat atau si pencoba, bersama balatentaranya
Siddharta Gautama, misalnya, selama Dia mencari pencerahan dan segera setelah Dia mendapatkan pencerahan dan menjadi sang Buddha atau Orang Yang Tercerahkan (pada usia 35 tahun) dikisahkan harus menghadapi pencobaan-pencobaan berat yang didatangkan oleh Iblis yang dikenal dalam teks-teks Buddhis sebagai Maara atau Paapimaa (= Si Pencoba, Dia Yang Jahat, atau Si Jahat).
Maara, sebagai sosok mitologis, digambarkan berwajah sangat mengerikan dan memiliki bala tentara berjumlah ribuan, dan mengendarai seekor gajah yang dinamakan Girimekhalaa. Si Jahat ini bersama dengan sepuluh skuadronnya menyerang Siddharta sebagai seorang calon Buddha. Ketika Siddharta berangkat meninggalkan segala kemuliaannya sebagai seorang pangeran, dia konon dicobai oleh Maara yang muncul di langit dan berbicara kepada sang calon Buddha ini mengenai kemuliaan kerajaan duniawi yang segera akan diterimanya. Ketika tawaran kerajaan duniawi ini ditolak Siddharta, Maara mengundurkan diri dan bersumpah akan terus menguntit-Nya seperti bayang-bayang yang terus hadir mengikuti-Nya.
Mereka bersatu-padu untuk menghancurkan tekad dan kesiapan sang Buddha untuk menyebarkan dharma kepada sebanyak mungkin orang, dengan menggunakan kecantikan wajah dan tubuh mereka yang sexy untuk merangsang syahwat sang Buddha. Mereka menggunakan nyanyian, tarian, musik, rayuan manis dan tubuh yang merangsang sebagai senjata mereka untuk membangkitkan gairah seksual dalam pikiran sang Buddha. Tetapi sang Buddha sedikitpun tidak tertarik kepada rayuan dan godaan genit mereka; maka mereka pun gagal juga.
Kita tentu saja tahu bahwa sebelum Yesus tampil di muka umum sebagai seorang nabi atau seorang rasul Allah, dia konon telah dicobai oleh Iblis seperti dikisahkan dalam injil-injil sinoptik (Markus 1:12-13; Matius 4:1-11; Lukas 4:1-13). Kepada Yesus, sang Iblis konon menawarkan cara-cara mudah untuk mendapatkan makanan, perlindungan Allah dan status messias, keagungan dan kerajaan dunia.
Dalam imajinasi saya, supaya lumayan lengkap, haruslah ada sebuah cobaan penting lainnya yang harus dihadapi dan diatasi Yesus, yakni pencobaan erotis dari seorang perempuan cantik dan menawan seperti konon pernah dihadapi Siddharta Gautama jauh sebelumnya. Godaan seksual adalah suatu kenyataan normal kehidupan manusia, yang bisa dialami baik oleh seorang laki-laki maupun oleh seorang perempuan, dan bukan suatu fiksi yang diciptakan karena kebencian kepada kaum perempuan atau kepada kaum pria.
Perempuan yang dapat menggoda Yesus secara seksual tentu saja Maria Magdalena, bukan seorang perempuan lain manapun. Ketika berhadapan dengan godaan seksual ini, Yesus harus memutuskan apa yang Dia akan harus lakukan pada perempuan yang menawan hati-Nya ini.
Wednesday, March 24, 2010
Yesus Menunggang Seekor Dinosaurus: Mungkinkah? Tak Waras!!!

Yesus menunggang seekor dinosaurus? Apakah ini mungkin, ataukah tidak mungkin? Menurut orang yang memegang kreasionisme sebagai kepercayaan mereka, bahwa Yesus menunggang seekor dinosaurus atau bahwa Yesus menggendong seekor bayi dinosaurus dalam kenyataannya bisa mungkin atau bahkan bisa sangat mungkin.
Kita tahu kalangan kreasionis mempertahankan pandangan-pandangan yang didasarkan pada Alkitab yang dipahami secara literalistik (harfiah) mengenai Bumi, jagat raya dan semua makhluk hidup yang mendiami dunia ini. Mereka percaya kuat sekali bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tidak dapat memiliki kesalahan apapun dalam segala hal yang disampaikannya kepada kita; Alkitab, bagi mereka, sama sekali tidak bisa salah dalam segala hal yang dicatat di dalamnya. Mereka mempertahankan bahwa seluruh Alkitab harus dipahami secara literalistik, dan bahwa untuk memahami Alkitab dengan benar, orang hanya memerlukan iman dan kepercayaan penuh pada makna harfiah setiap kata yang ditulis dalam Alkitab.

Dengan demikian, mereka membayangkan bahwa Yesus menunggangi seekor dinosaurus atau bahwa Yesus memeluk seekor anak dinosaurus adalah suatu kenyataan yang mungkin sekali terjadi. Mengetahui hal ini mungkin membuat kepala Anda mulai berputar-putar keleyengan!
Melanjutkan kajian yang baru, yang sebelumnya sudah dilaksanakan oleh Walter dan Luis Alvarez, sebuah panel yang terdiri atas 41 orang ilmuwan dari berbagai tempat di muka Bumi (Eropa, Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, dan Jepang) pada 4 Maret 2010 melakukan tinjauan ulang menyeluruh atas penelitian yang sudah berlangsung selama 20 tahun untuk mencoba mengonfirmasi apa penyebab “kemusnahan massal Kretaseous-Tertiari (K-T)”. Laporan tim ilmuwan ini dapat dibaca pada jurnal Science 2010:327 (5970):1214-1218.
“Kemusnahan massal Kretaseous-Tertiari” (Cretaceous-Tertiary Mass Extinction) adalah sebuah terminologi baku yang menunjuk pada kemusnahan massal spesies-spesies fauna dan flora yang berlangsung dalam suatu kurun geologis yang pendek di muka Bumi pada 65,5 juta tahun yang lalu; terminologi ini juga dikenal sebagai "kemusnahan K-T". Belakangan, kemusnahan K-T disebut juga kemusnahan Kretaseous-Paleogene, atau kemusnahan K-Pg. Istilah “Tapal batas K-T” (K-T boundary) menunjuk pada suatu lapisan tipis sedimentasi geologis yang ditemukan di berbagai tempat di muka Bumi, yang terbentuk selama kurun kemusnahan K-T.
Menurut kesimpulan panel ini, sebuah asteroid atau komet raksasa dari angkasa luar yang lebarnya sampai 15 kilometer (= 9 mil) yang menumbuk muka Bumi di Chicxulub di semenanjung Yucatan (sekarang dikenal sebagai Meksiko) adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengapa terjadi kemusnahan K-T, mengapa dinosaurus/1/ lenyap dari muka Bumi.
Kejadian alam maha dahsyat ini menciptakan suatu “lingkungan seperti neraka” sekitar 65,5 juta tahun yang lalu dan melenyapkan lebih dari separuh spesies di muka Planet Bumi, termasuk dinosaurus, pterosaurus yang seperti burung dan reptilia yang hidup di laut. Para ilmuwan yang melakukan pengkajian ini menganalisis hasil-hasil penelitian 20 tahun terakhir ini yang telah dilakukan para pakar paleontologi, pakar kimia bumi dan atmosfir, pakar pembuat model iklim, pakar geofisika dan pakar sedimentologi, yang terus masih mengumpulkan bukti-bukti mengenai kemusnahan K-T ini.
Menurut kesimpulan panel ini, sebuah asteroid/komet raksasa dari angkasa luar yang lebarnya sampai 15 kilometer (= 9 mil) yang menumbuk muka Bumi di Chicxulub (sekarang dikenal sebagai Meksiko) adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengapa dinosaurus lenyap dari muka bumi.
Di atas ini, ilustrasi sebuah asteroid raksasa menumbuk Bumi 65 juta tahun yang lampau. Segala reruntuhan yang ditimbulkannya terbang terlempar ke atas, memasuki atmosfir dan menggelapkan seluruh muka Bumi.
Rekam jejak geologis memperlihatkan bahwa peristiwa dahsyat yang menyebabkan kematian dinosaurus ini dengan cepat menghancurkan ekosistem darat dan ekosistem laut. Rekam jejak fosil menunjukkan telah terjadi kemusnahan massal sekitar 65,5 juta tahun lalu (waktu yang kini dikenal sebagai batas K-Pg). Kurun yang menjadi neraka bagi dinosaurus ini, yang menandakan berakhirnya masa kekuasaan dinosaurus di muka bumi selama 160 juta tahun, ternyata menjadi suatu hari akbar bagi makhluk mammalia. Kemusnahan KT adalah suatu momen maha penting dalam sejarah Bumi yang akhirnya, sangat jauh kemudian, membuka jalan bagi kelahiran manusia, homo sapiens, 200 ribu tahun yang lalu, yang kemudian menjadi spesies yang menguasai Bumi.
Sedikitnya ada dua bukti yang langsung menghubungkan tumbukan asteroid ini dan kemusnahan K-T. Pertama, berlimpahnya iridium dalam sampel-sampel geologis di seluruh dunia yang berasal dari kurun kemusnahan K-T.
Namun pada awal tahun 2011, seperti dilaporkan dalam jurnal Geology 2011; 39 (2):159, tim peneliti dari Universitas Alberta, yang dipimpin oleh Larry Heaman dari Department of Earth and Atmospheric Sciences, berhasil menentukan usia sebongkah fosil tulang paha hadrosaurus yang ditemukan di New Mexico, yakni 64,8 juta tahun, dan ini berarti dinosaurus amfibi pemakan tetumbuhan ini hidup 700.000 tahun setelah kemusnahan K-T. Penentuan usia fosil tulang paha hadrosaurus ini dilakukan dengan memakai sebuah metode baru yang belum dipakai sebelumnya, yakni metode yang dinamakan U-Pb (Uranium-Plumbum, atau Uranium-Timah hitam).
Teknik baru ini bukan saja memungkinkan penentuan usia fosil tulang, tetapi juga potensial dapat membedakan jenis makanan yang dimakan seekor dinosaurus. Tulang makhluk hidup berisi hanya sedikit uranium, tetapi selama proses fosilisasi (umumnya kurang dari 1000 tahun setelah kematian) tulang diperkaya oleh banyak unsur kimiawi, seperti uranium. Atom-atom uranium dalam tulang perlahan-lahan berubah menjadi timah hitam, dan ketika proses fosilisasi selesai maka jam uranium-plumbum berdetak. Komposisi isotop timah hitam yang didapat dalam tulang paha hadrosaurus ini dengan demikian menentukan usia mutlak fosil tulang paha ini.
Penemuan yang dibuat Larry Heaman dkk ini menunjukkan bahwa hadrosaurus yang fosil tulang pahanya ditemukan di New Mexico ini berhasil bertahan hidup melewati bencana alam dahsyat yang menyebabkan kemusnahan K-T. Menurutnya, adalah mungkin pada 65,5 juta tahun yang lalu di beberapa kawasan tetumbuhan tidak ikut lenyap dan sejumlah spesies hadrosaurus bertahan hidup. Tim ilmuwan ini berpendapat mungkin sekali ada banyak telur dinosaurus yang luput dari kemusnahan K-T, dan karenanya perlu dieksplorasi. Larry Heaman dkk percaya, jika teknik U-Pb baru mereka dipakai untuk menentukan usia lebih banyak sampel fosil dinosaurus, maka paradigma kemusnahan K-T dan berakhirnya zaman dinosaurus akan harus direvisi.
Akhir kata, jika kita menggunakan sains untuk memahami dan merekonstruksi masa lampau, maka kita harus menyatakan kepada para kreasionis bahwa Yesus yang menunggangi seekor dinosaurus atau yang menggendong seekor dinosaurus kecil adalah Yesus yang ada hanya dalam imajinasi kristologis heterodoks tak waras mereka. Mereka selalu mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang Kristen ortodoks, meskipun dalam kenyataannya tidak.
oleh Ioanes Rakhmat
Sumber:
http://www.sciencedaily.com/releases/2010/03/100304142242.htm
http://www.sciencedaily.com/releases/2011/01/110127141707.htm
-------------
/1/ Kata “dinosaurus” dibentuk dari dua kata Yunani δεινός (deinos= dahsyat, sangat kuat, menakjubkan) dan σαυρος (sauros=kadal, reptilia).
Monday, February 15, 2010
Yesus dan Domba Hitam
Kebanyakan orang Kristen berpandangan bahwa Yesus betul-betul seorang gembala yang baik pada masa kehidupannya dulu, yang memiliki banyak domba. Padahal pekerjaan Yesus yang sebenarnya adalah tukang kayu (Yunani: tektōn), seperti dicatat dalam Markus 6:3 dan Matius 13:55. Jadi, sebetulnya gambaran tentang Yesus sebagai sang gembala yang baik adalah sebuah metafora, sebuah perumpamaan, sebuah ibarat. Bahkan Yesus sendiri memakai sebuah metafora ketika dia berkata, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 15:24): domba-domba di sini bukanlah hewan domba betulan, melainkan bagian dari umat Israel yang tersingkir ke pinggiran masyarakat karena sistem klasifikasi masyarakat yang diterapkan para penguasa Yahudi zamannya.
Karena sifat metaforisnya, penulis Injil Yohanes bahkan dapat mengubah Yesus dari sebagai “sang gembala yang baik” (Yohanes 10:11) menjadi “sang anak domba Allah” yang dikorbankan untuk menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Ini adalah suatu pergeseran besar dalam metafora yang digunakannya. Dalam realita, memang itulah yang terjadi: semula Yesus adalah sang pemimpin (=sang gembala) tidak resmi masyarakat Yahudi di Galilea; tetapi kemudian dia menjadi korban (=domba yang disembelih) sistem perpolitikan yang dijalankan para penguasa Roma dan penguasa Yahudi zamannya.
Karena dipersepsi sebagai sang gembala yang baik, gambar Yesus memeluk seekor anak domba berbulu putih lazim ditemukan di mana-mana. Di sekolah. Di ruang belajar Anda. Di ruang tamu rumah Anda. Tetapi bagaimana dengan gambar di bawah ini, gambar Yesus sedang memeluk seekor domba hitam?


Si pelukis gambar hendak menyampaikan pesannya, bahwa Yesus Kristus tetap mengasihi, menjaga, memelihara dan mencari orang-orang semacam itu. Hal ini bertolakbelakang dengan apa yang umumnya dipraktikkan gereja, yakni ingin mengeluarkan anggota-anggotanya yang dipandang telah mempermalukan komunitasnya.
Friday, February 5, 2010
Yesus Kristus sebagai Sampeyan Dalem Maha Prabhu Pangeraning Para Bangsa

Nama Ganjuran diambil dari sebuah tembang yang berjudul Kala Ganjur yang liriknya mengisahkan kehidupan bersama yang didasarkan ikatan cinta antara Ki Ageng Mangir dan Rara Pembayan kala keduanya telah diasingkan dari Mataram. Jadi, diharapkan, dari gereja dan candi ini akan terpancar cinta kasih yang besar yang mengikat semua anak manusia. Sekarang, gereja dan candi ini diurus oleh Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang.
Gereja HKTY Ganjuran didirikan 16 April 1924 atas prakarsa Joseph Schmutzer dan Julius Schmutzer, dua orang Belanda bersaudara pemilik pabrik gula Gondang Lipuro. Candinya sendiri didirikan di sebelah timur gereja ini pada 1927, dengan mengikuti arsitektur Hindu-Jawa (Mataram dan Majapahit). Candi ini tingginya 9 meter, dan memiliki 9 anak tangga yang membawa orang ke relung teratas candi ini yang di dalamnya dipasang arca Yesus Kristus. Sembilan anak tangga melambangkan sembilan tahapan yang harus ditempuh untuk orang dapat masuk ke Surgaloka. Dengan demikian, arca Yesus Kristus ini dibayangkan terletak di Surgaloka.
Pada tahun 1998 di dasar candi ini ditemukan sebuah mata air yang mengandung mineral dalam konsentrasi tinggi sehingga konon berkhasiat menyembuhkan penyakit. Mata air ini disalurkan ke atas lewat 9 titik kran untuk dapat digunakan bagi berbagai keperluan. Air ini diberi nama Tirta Perwitasari. Dalam kisah pewayangan Jawa ada rujukan kepada air suci Perwitasari yang diyakini sebagai air kehidupan yang dicari oleh Wijasena.
Mari kita perhatikan arca Yesus Kristus ini dengan lebih teliti. Arca ini mengenakan sebuah mahkota raja dan memakai busana kebesaran raja-raja Jawa lengkap dengan segala pernak-pernik perhiasannya. Sementara duduk di singasana kebesarannya, tangan kanannya menunjuk pada hati kudusnya dan tangan kirinya sedikit menyibak jubah kebesaran rajaninya. Rambut panjang di kepalanya ditata rapi serupa dengan model rambut Siddharta Gautama atau model rambut para pendeta Hindu kuno. Di atas arca ini (tidak tampak sepenuhnya dalam gambar) tertera aksara jawa yang bunyinya demikian: Sampeyan Dalem Sang Maha Prabhu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa.
Gelar Sampeyan Dalem adalah gelar khas untuk raja-raja Jawa Mataram. Arca ini bukan sekadar arca Yesus Kristus sebagai seorang raja Jawa, tetapi arca seorang Maha Prabhu, seorang Maha Raja. Maha Prabhu ini adalah Pangeran segala bangsa. Pangeran dalam sebutan orang Jawa DIY sinonim dengan Tuhan. Kedua telapak kaki sang Maha Raja dan Tuhan segala bangsa ini menginjak sekuntum bunga padma/teratai besar yang sedang mekar penuh (tidak tampak dalam gambar), lambang kemurnian, kesucian, kebijaksanaan, cinta dan keilahian Sang Maha Prabhu Yesus Kristus ini.

Keduanya berpakaian kebesaran kerajaan Jawa. Di bawah arca ini ada tulisan
Dyah Maria Ganjuran Nyuwun Pangestu Dalem
(Bunda Maria Ibu Ganjuran, Minta Restumu)
Ketika gempa bumi melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006, bangunan gereja Ganjuran dan kompleks di sekitarnya hancur, tetapi candi dan arca Maha Prabhu Yesus Kristus di dalamnya bertahan utuh. Kenyataan ini membuat orang-orang Jawa di sana yang masih berpikiran magis, termasuk tentu warga gereja yang sering berkunjung ke sana (tidak hanya orang Katolik) untuk mencari mukjizat kesembuhan dan berdoa khusuk, menganggap arca Yesus Kristus sang Maha Prabhu ini sakti. Inkulturasi injil dalam kebudayaan Jawa kuno dan alam pemikiran magis menyatu dalam arca Yesus Kristus di candi Ganjuran ini. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa kalau arca Yesus Kristus sang Maha Prabhu ini sakti, kota Yogyakarta dan manusia penduduknya tidak dilindunginya dari bencana gempa bumi itu.
Bagaimanapun juga, apakah Anda mau mencoba khasiat dan tuah arca ini dan Tirta Perwitasarinya? Jika ya, datang saja berbondong-bondong ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Jangan lupa, kalau Anda menyimpan banyak permintaan di hati, di sana Anda musti sungkem dan berdoa komat-kamit di kaki arca Sang Maha Prabhu Yesus Kristus, tentu jika Anda tidak memiliki keberatan nurani apa pun untuk sujud di kaki sebuah patung seperti taatnya warga gereja Katolik untuk sujud di bawah kaki patung Bunda Maria. Dan, ingat, jangan minum Tirta Perwitasari di sana banyak-banyak, sebab, kata dokter, air yang mengandung mineral dalam kadar tinggi bisa membuat orang terkena batu ginjal.
Wednesday, January 27, 2010
Yesus Yahudi Dengan Mata Gelap

Di atas adalah gambar seorang Yesus Yahudi. Kita tahu dia adalah Yesus karena di atas kepalanya melingkar sebuah anyaman mahkota duri tajam. Gambar seluruh wajah, rambut dan kepalanya didominasi warna hitam. Rambut hitamnya menjulur ke bawah acak-acakan, menyatu dengan kumis, cambang dan berewoknya.
Yesus Yahudi ini ditampilkan dengan sangat kelam. Apakah karena dia dipandang sebagai seorang mesias Yahudi yang gagal, ditangkap dan disalibkan sebelum dia menggolkan perjuangannya? Apakah karena dia dijadikan simbol kedukaan dunia berhubung sistem hukum Romawi zamannya bukan membelanya tetapi malah menjatuhkan vonis mati kepadanya padahal dia tidak memiliki kekuatan militer apapun yang bisa membahayakan otoritas Roma di tanah Israel? Ataukah si pelukisnya memang memandang sang lelaki kelam ini adalah sebuah batu sandungan yang memalukan dan membuat gelap sejarah bangsa Yahudi karena dia mati dengan cara memalukan dan penuh aib, disalibkan, padahal dia sendiri melihat dirinya sebagai sang mesias Yahudi, raja Israel?
Apapun juga pertanyaan Anda, simpanlah dulu, karena itu bukan yang terpenting yang mau ditampilkan oleh lukisan ini. Yang terpenting adalah ini: Arahkanlah sepasang mata Anda yang terbuka lebar tegak lurus ke kedua kelopak matanya yang tampak terkatup, dan pandanglah lama-lama kedua kelopak matanya ini! Maka .... apa yang Anda lihat?
Sunday, January 10, 2010
Madonna Breastfeeding the Infant Jesus

Di atas adalah foto sebuah patung kecil unik asesoris diorama peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus yang dibeli penulis dari Atlanta, Trudie Barreras, ketika dia berkunjung ke Meksiko pada tahun 2001. Keunikan patung ini terletak pada figur Bunda Maria yang sedang bertelanjang dada meneteki bayi Yesus yang dengan tenang menyedot salah satu puting susu bundanya. Kedua payudara Bunda Maria yang dibiarkan telanjang serta kerlingan lembut dan tajam kedua matanya ke arah sang bayi memberi kesan mendalam pada setiap orang yang memandang patung ini dalam-dalam. Bukan saja sinar cinta dari kedua matanya menghubungkan sang bunda kudus dengan sang bayi buah hatinya, tetapi juga mulut mungil sang bayi terhubung langsung dengan tubuh sang ibu melalui puting susu yang sedang asyik dikenyotnya. Body-to-body touch and connection!
Pembuat patung luar biasa ini bukan sedang mengeksploitasi patung Bunda Maria secara seksual untuk mendapatkan keuntungan material dari penjualan hasil karya seninya ini. Tetapi apa yang diekspresikan melalui patung uniknya ini memberi gambaran impresionistik yang sangat kuat mengenai sifat dan kodrat keibuan sang bunda Maria yang melalui dua buah payudaranya yang padat berisi air susu ibu memberi nutrisi sehat pada sang bayi Yesus, sementara sang Bunda yang sedang menyusui bayinya ini duduk di atas pelana seekor keledai berpunggung dan berkaki kuat.
Anda bertanya, mau pergi ke mana sang Bunda Maria bersama sang bayi Yesus dengan menunggang seekor keledai jantan yang perkasa? Memang Yusuf tidak ditampilkan oleh si pengrajin patung. Tetapi jelaslah kalau si seniman bermaksud menggambarkan perjalanan keluarga kudus ini kabur ke Mesir, meninggalkan Betlehem, untuk menghindari Raja Herodes yang sedang mencari sang bayi untuk dibunuhnya, seperti dikisahkan penulis Injil Matius dalam pasal 2:13-18.
Tentu saja kisah perjalanan ke Mesir oleh keluarga kudus ini bukanlah sebuah kisah yang faktual dulu terjadi. Bagaimana mungkin di tengah lingkungan keras daerah bebatuan dan gurun serta keadaan jalan-jalan setapak yang berat keluarga kudus ini harus menempuh perjalanan sejauh antara 300 sampai 400 kilometer dengan tentu saja bukan naik sebuah Jeep, melainkan dengan menunggang seekor keledai, dengan sekaligus harus merawat dan menjaga kesehatan sang bayi Yesus terus-menerus? Jika perjalanan semacam ini dilakukan oleh perempuan mana pun yang baru melahirkan bersama bayinya yang masih merah, pada keadaan dan kondisi zaman itu di Timur Tengah, ini akan menjadi suatu mimpi buruk, a nightmare, yang akan berujung pada kematian.
Penulis Injil Matius menyusun sebuah episode fiktif pelarian ke Mesir ini karena kebutuhan teologisnya untuk menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh bisa menjadi sang Mesias Israel, Anak Allah, karena Yesus sudah menapaktilaskan perjalanan bangsa Israel, anak Allah, keluar meninggalkan Mesir, rumah perbudakan, untuk masuk ke Tanah Perjanjian (Keluaran 14), setelah untuk beberapa waktu diungsikan oleh kedua orangtuanya ke Mesir. Bahwa episode ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan teologis ini nyata dari sebuah pernyataan yang ditulisnya pada ayat 15, “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku’” (kutipan dari Hosea 11:1), untuk memberi sebuah landasan skriptural bagi kembalinya kanak-kanak Yesus dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Pelarian ke Mesir oleh keluarga kudus ini bisa jadi juga merupakan sebuah fiksi teologis Matius untuk menyejajarkan Yesus dengan Yusuf, anak Rahel, yang dijual seharga dua puluh syikal perak oleh saudara-saudaranya kepada para pedagang dari Midian yang kemudian membawanya ke Mesir dan di sana akhirnya Yusuf menjadi seorang besar yang sangat berkuasa, seperti dikisahkan dalam Kejadian 37:28; 39:1; dan 41:37-45. Pendek kata, episode injil tentang pelarian ke Mesir menempatkan Yesus sejajar dengan para bapak leluhur Israel bahkan mengejawantahkan dalam dirinya sendiri seluruh kolektivitas bangsa Israel sebagai anak Allah, yang dulu Allah, melalui Musa, telah merdekakan dari perbudakan di Mesir.